Membangun Budaya Refleksi, Menguatkan Well-Being Warga Sekolah

Membangun Budaya Refleksi, Menguatkan Well-Being Warga Sekolah

--

Oleh: Reni Listiowati, S.Pd.

Kepala UPTD SPF SD Negeri Randugunting 3 Kota Tegal

 

Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses memanusiakan manusia yang bertujuan menuntun setiap individu untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi kodratnya. Ki Hadjar Dewantara (1936) memaknai pendidikan sebagai tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, pemenuhan target kurikulum, atau penyelesaian administrasi, tetapi juga pada pembentukan manusia yang utuh, merdeka, dan sejahtera. Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan bermakna bagi murid maupun guru untuk bertumbuh, merasa dihargai, membangun relasi yang positif, serta mengembangkan potensi diri secara optimal.

Di banyak sekolah, proses pembelajaran terkadang masih dimaknai sebatas kegiatan menyampaikan materi, menyelesaikan target kurikulum, dan memenuhi tuntutan administrasi. Sebagian guru merasa tugasnya telah selesai ketika materi pelajaran tersampaikan dan seluruh rangkaian pembelajaran terlaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Namun, tidak semua guru sempat bertanya lebih jauh: apa yang dirasakan murid selama mengikuti pembelajaran? Apakah mereka merasa senang, nyaman, dihargai, dan terlibat aktif, atau justru merasa tertekan, bosan, takut melakukan kesalahan, bahkan tidak dipahami? Ketika pembelajaran telah dianggap selesai hanya karena sesuai dengan prosedur dan aturan kurikulum, ada dimensi penting yang berisiko terabaikan, yaitu pengalaman batin dan kesejahteraan peserta didik.

Di sisi lain, guru juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dan alami selama menjalankan tugas di sekolah. Tidak hanya tentang keberhasilan pembelajaran, tetapi juga berbagai tantangan, beban pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja, dukungan fasilitas, hingga kebijakan yang memengaruhi kenyamanan mereka dalam bekerja.

Sayangnya, dalam praktiknya, kesempatan untuk menyampaikan refleksi seperti ini belum selalu menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Guru lebih sering diminta melaksanakan tugas dan memenuhi target daripada diajak berdialog tentang apa yang mereka butuhkan agar dapat bekerja dengan baik.

Dalam hal ini, kepala sekolah memegang peran penting untuk membuka ruang dialog yang aman, membangun komunikasi dua arah, serta menerima masukan guru tanpa membuat mereka merasa takut atau khawatir disalahkan.

Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, SDN Randugunting 3 Kota Tegal mulai membangun budaya refleksi sebagai bagian dari kehidupan sekolah.

Refleksi dilakukan secara bertahap dan melibatkan berbagai pihak. Pada akhir pembelajaran, guru dan murid dibiasakan melakukan refleksi untuk mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik, kendala yang dihadapi, serta perbaikan yang perlu dilakukan. Di tingkat guru, refleksi dilakukan melalui ruang diskusi komunitas belajar.

Forum ini menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, menyampaikan tantangan, bertukar gagasan, dan mencari solusi bersama dalam suasana terbuka tanpa saling menyalahkan.

Kegiatan refleksi guru dimulai dari 1) Refleksi Awal : diskusi berbagai data atau hasil asesmen murid untuk mengidentifikasi hambatan belajar dan menentukan Solusi prioritas, 2) Berbagi Praktik Baik dan Diskusi Solusi: Guru menceritakan tantangan nyata yang dihadapi di kelas masing-masing, dilanjut mencari alternatif metode atau media pengajaran yang lebih efektif. 3) Evaluasi Penerapan (Refleksi Akhir): para guru kembali berkumpul untuk menilai keefektifan pembelajaran,3) Penyusunan Rencana Tindak Lanjut: guru merumuskan langkah perbaikan untuk siklus pembelajaran berikutnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait