Komisi X DPR RI Pastikan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Di Bidang Olahraga

Komisi X DPR RI Pastikan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Di Bidang Olahraga

Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifah Amaliah. Foto : Erna Yunus Basri--

KLATEN, diswayjateng.id - Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifah Amaliah, memastikan pemenuhan hak penyandang disabilitas di bidang olahraga. 

Menurut Ledia Hanifah, dalam upaya  mendorong terciptanya ekosistem olahraga yang inklusif bagi penyandang disabilitas terus dilakukan, digelar training of trainers (ToT).

"ToT ini bagi para penggerak olahraga disabilitas yang kini memasuki pertemuan ke-15. Kegiatan tersebut sebagai pemenuhan hak penyandang disabilitas di bidang olahraga 

sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas," ujar Ledia Hanifah. 

BACA JUGA: Truk Hancur Tertemper KA Malabar di Klaten, Belasan Perjalanan Alami Keterlambatan

BACA JUGA: Satu Orang Tewas, Elf Rombongan Asal Boyolali Terguling Hingga Timpa Kios di Tanjakan Bundelan Klaten

Menurut Ledia, pendekatan terhadap penyandang disabilitas tidak lagi semata-mata berbasis bantuan atau tugas, tetapi harus berorientasi pada pemenuhan hak (rights-based approach).

Hal tersebut kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Menurutnya, selama ini perhatian terhadap olahraga disabilitas kerap baru muncul ketika seorang atlet berhasil meraih prestasi.

Keberadaan ekosistem yang baik diperlukan agar penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan untuk berlatih, dibina, memiliki akses terhadap fasilitas olahraga, hingga akhirnya mampu mencapai prestasi. 

BACA JUGA: Polda Jateng Bongkar Peredaran Sabu Modus Sistem Tempel di Klaten dan Boyolali

BACA JUGA: Kakak Beradik Warga Klaten Korban KM Virgo Transport 8 Tenggelam, Seorang Dinyatakan Selamat

"ToT menjadi sarana untuk memberikan pemahaman kepada para penggerak olahraga mengenai konsep olahraga inklusif dan olahraga bagi penyandang disabilitas," tandasnya. 

Penyandang disabilitas di Indonesia menurut dia, merupakan potensi besar yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan olahraga. Keragaman kondisi dan tingkat disabilitas membuat kebutuhan setiap individu berbeda, sehingga tidak bisa semunya diarahkan ke olahraga prestasi. "Bisa jadi memang disabilitasnya berat sehingga dia sulit untuk olahraga," imbuhnya. 

Selain pembinaan, Ledia menyoroti pentingnya memastikan fasilitas olahraga dapat diakses oleh penyandang disabilitas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: