Peresmian 69 SPPG NU di Batang, Program Makan Bergizi Gratis Masuk Babak Baru
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana-IST-
Ia menegaskan besarnya daya serap SPPG NU menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya belanja negara, tetapi juga penggerak ekonomi rakyat.
Tak berhenti pada protein hewani, Program Makan Bergizi Gratis juga menyedot kebutuhan buah-buahan dalam jumlah masif.
Dadan mencontohkan penggunaan pisang sebagai menu harian di dapur-dapur SPPG NU.
“Kalau satu dapur membutuhkan sekitar 3.000 pisang per hari, berarti dalam seminggu butuh 18.000 pisang,” ungkapnya.
Jumlah itu setara dengan sekitar 1.400 tandan pisang atau kurang lebih satu hektare lahan dalam satu minggu.
Keterbatasan lahan produksi membuat BGN mendorong partisipasi warga NU dalam mendukung rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis.
BACA JUGA:Wawali Salatiga Pastikan 4 SPPG Sementara Stop Memasok MBG di Sekolahan
BACA JUGA:Muhamadiyah Pemalang Miliki 3 Dapur SPPG, Wabup Pemalang Ingatkan Kepala Dapur dan Juru Masak
“Saya minta setiap warga NU di Batang menanam minimal 10 pohon pisang,” tegas Dadan.
Menurutnya, ajakan tersebut bukan sekadar soal pisang, melainkan tentang kemandirian pangan dan semangat gotong royong.
BGN juga menyiapkan skema fleksibel untuk menyerap komoditas pangan yang sedang mengalami kelebihan produksi atau tekanan harga.
“Kalau harga kentang turun dan tidak laku, kami bisa minta SPPG memasak menu berbasis kentang satu atau dua hari dalam seminggu,” jelas Dadan.
Skema ini membuat Program Makan Bergizi Gratis berfungsi seperti penyangga pasar di level daerah.
Dadan meminta pemerintah daerah dan masyarakat tidak ragu melapor jika ada komoditas yang kesulitan dipasarkan.
“Kapasitas pembelian SPPG sangat masif dan ini bisa menjadi instrumen efektif menjaga keseimbangan pasar lokal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
