Geger! 10 Seniman Kondang Siap Bikin Lukisan Garam Terbesar di Dunia di Rembang

Geger! 10 Seniman Kondang Siap Bikin Lukisan Garam Terbesar di Dunia di Rembang

KARYA SENI MELUKIS GARAM - Petani Garam Dasun sedang membuat lukisan garam berjudul Bancaan Rupa pada 2023 lalu di Tambak Gede Dasun, lukisan ini menyabet rekor muri dunia. - dok.istimewa ---

REMBANG, diswayjateng.id - Gelaran Festival Garam Dasun 2026 di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten REMBANG mendadak jadi sorotan publik. Bagaimana tidak, sebanyak 10 seniman terpilih dari berbagai penjuru Nusantara dipastikan bakal ngumpul bareng seniman-petani garam lokal demi mencetak sejarah baru membuat lukisan garam terbesar di dunia!

Tak main-main, karya raksasa bertajuk "Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun" ini digadang-gadang bakal memecahkan rekor dunia MURI yang sebelumnya sempat diraih lewat karya "Bancaan Rupa" pada 2023 silam.

Usut punya usut, proyek monumental ini ternyata merupakan amanah dan ide membara dari sang maestro seni rupa Indonesia, almarhum Nasirun, sebelum berpulang pada 1 Agustus 2026 lalu.

Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, membeberkan bahwa para seniman terpilih ini dijaring ketat lewat proses open call sejak 9 hingga 25 September 2026. Dari puluhan portofolio yang masuk, terpisahlah 10 nama mentereng dengan latar belakang ciamik, mulai dari pegiat akar rumput, akademisi, hingga seniman langganan ajang internasional.

BACA JUGA:  Kerugian Mencapai Rp 600 Juta, Kandang Ayam di Kayen Pati Hangus Terbakar

BACA JUGA:  KPU Demak Catat 19.853 Masukan dalam Pemutakhiran Data Pemilih Triwulan III

Uniknya, para seniman ini tak bakal dimanjakan dengan fasilitas hotel berbintang maupun galeri mewah. Selama masa residensi pada 14–17 Oktober 2026 mendatang, mereka bakal "mringis" dan menyatu langsung dengan menyerap kearifan lokal di rumah-rumah warga Desa Dasun.

"Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga," tegas Eggy saat dikonfirmasi wartawan.

Rasa bangga pun tak bisa disembunyikan oleh Tri Wahyudi, salah satu peserta residensi asal Yogyakarta. Ia mengaku bersyukur bisa terlibat langsung bersama masyarakat petani garam. Senada dengan Tri, peserta lokal asal Rembang, Kharisma Widya Kartika, juga tak sabar ingin mengeksplorasi proses berkesenian kolektif dengan garam sebagai medium utamanya.

Di sisi lain, perwakilan seniman-petani garam Dasun, Mulyono dan Arief Yulianto, menyambut hangat kolaborasi langka ini. Menurut mereka, selama ini garam cuma dipandang sebelah mata sebagai komoditas dapur belaka. Lewat sentuhan dingin para seniman, keringat dan perjuangan di tambak diyakini bakal berubah menjadi karya seni bernilai tinggi yang sarat cerita.

BACA JUGA:  Barongan Spirit Festival 2026 Resmi Digelar di Tegal, Angkat Warisan Leluhur hingga Pamerkan UMKM

BACA JUGA:  Tiga Desa di Kudus Krisis Air Bersih, Propam Kirim 31.500 Liter

Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, menegaskan bahwa karya kolaboratif ini punya makna mendalam bagi warga pesisir.

"Lukisan garam ini adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi. Karya ini bukan hanya karya seni, tetapi juga ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, rasa syukur, dan suara petani garam," paparnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait