Kemarau Meluas ke Dataran Rendah Kebumen, Bendung Pejengkolan Salurkan Air untuk Ribuan Hektare Sawah
Bendung Pejengkolan di Kecamatan Padureso, Kebumen, mulai mengalirkan air ke jaringan irigasi untuk mendukung masa tanam dan memenuhi kebutuhan air petani di tengah kemarau.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Dampak kekeringan di Kabupaten KEBUMEN mulai dirasakan petani di wilayah dataran rendah. Minimnya pasokan air akibat musim kemarau membuat petani harus mengatur strategi agar lahan pertanian tetap bisa digarap dan masa tanam tidak semakin tertunda.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut, Bendung Pejengkolan di Desa Pejengkolan, Kecamatan Padureso, mulai mengalirkan air ke sejumlah jaringan irigasi guna mendukung Masa Tanam (MT) I.
Per 1 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB, Bendung Pejengkolan mengalirkan air masing-masing sebesar 1,5 meter kubik per detik ke Saluran Induk Wadaslintang Barat dan Saluran Induk Wadaslintang Timur. Selain itu, aliran sebesar 4 meter kubik per detik juga disalurkan ke wilayah Bedegolan setiap Senin, Rabu, dan Jumat.
Petugas Operasi Bendung (POB) Pejengkolan, Eko Dian Ariyanto, mengatakan penyaluran air dilakukan secara bertahap dalam dua periode setiap bulan. Pada dua minggu pertama, pengaliran berlangsung mulai 1 hingga 15 Oktober. Selanjutnya, debit air akan ditambah pada periode 16 Oktober hingga akhir bulan.
BACA JUGA: Bendung Boro Dikeruk, 1.000 Meter Kubik Sedimentasi Diangkat untuk Jaga Pasokan Air Purworejo
BACA JUGA: Kebakaran Hutan Perhutani Buayan Kebumen, 1 Hektare Lahan Terbakar
“Pengaliran air ditambah setiap dua minggu. Untuk dwiminggu pertama totalnya 7 meter kubik per detik, dwiminggu kedua pasti ada kenaikan,” kata Eko, Jumat (2/10/2026).
Wilayah Bedegolan mendapat alokasi air lebih besar karena mayoritas petani di kawasan tersebut masih menanam padi. Luas lahan yang membutuhkan pasokan air diperkirakan mencapai sekitar 740 hektare.
“Untuk ke wilayah Bedegolan lebih banyak, yaitu 4 meter kubik per detik, sebab mayoritas petani di sana hingga saat ini masih menanam padi. Bisa dibilang telat dan itu totalnya kurang lebih 740 hektare,” ujarnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah lain yang sebagian petaninya telah beralih menanam palawija. Bahkan, beberapa lahan sudah memasuki masa panen sehingga petani mulai menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
BACA JUGA: Baja Ringan Kendal Tembus Australia, Auri Steel Targetkan Ekspor 6.000 Ton per Tahun
BACA JUGA: Kabur dari Audiensi Transparansi Anggaran, Bupati Rembang Gunakan Dalih 'Tinjau Jalan Rusak'!
Air Dialirkan Bertahap, Petani Diminta Segera Olah Lahan
Pada tahap awal, pengaliran air dari Bendung Pejengkolan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian. Air juga dimanfaatkan untuk membersihkan saluran dari sampah dan membasahi jaringan irigasi yang telah lama mengering.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
