Bendung Boro Dikeruk, 1.000 Meter Kubik Sedimentasi Diangkat untuk Jaga Pasokan Air Purworejo

Bendung Boro Dikeruk, 1.000 Meter Kubik Sedimentasi Diangkat untuk Jaga Pasokan Air Purworejo

Perum Jasa Tirta I bersama PDAM Tirta Perwitasari melakukan pengerukan sedimentasi di Bendung Boro, Purworejo, untuk menjaga fungsi bendung dan ketersediaan air baku.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-

PURWOREJO, diswayjateng.id – Penumpukan sedimentasi selama bertahun-tahun di Bendung Boro, Kabupaten Purworejo, mulai ditangani. Perum Jasa Tirta I bersama Perumda Air Minum Tirta Perwitasari melakukan pengerukan untuk mengembalikan fungsi bendung sekaligus menjaga ketersediaan air baku bagi masyarakat.

Pengerukan dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Pada tahap awal, sekitar 1.000 meter kubik sedimentasi ditargetkan terangkat dalam pekerjaan yang diperkirakan berlangsung selama tujuh hari dengan menggunakan satu unit alat berat.

Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, mengatakan pengerukan menjadi langkah antisipasi terhadap dampak sedimentasi, terutama menjelang musim hujan.

“Ini merupakan upaya PDAM bekerja sama dengan Jasa Tirta di bawah koordinasi BBWS Serayu Opak untuk menormalisasi atau merevitalisasi Bendung Boro. Sedimentasinya sudah lama menumpuk dan belum ada pengerukan, sehingga dikhawatirkan mengganggu fungsi bendung,” jelas Hermawan Jumat (2/10/2026).

BACA JUGA: Dua Siswa SDN 1 Tutup Tak Masuk Sekolah, Keluhan Sakit Perut Pasca Dugaan Insiden MBG Bertambah Jadi 14 Siswa

BACA JUGA: Dari Buta Huruf hingga ABK, Program SDM Antar Walikota Pekalongan Raih Penghargaan Nasional

Menurutnya, sedimentasi yang terus menumpuk dapat mengurangi kapasitas tampungan air. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko kerusakan tebing dan sempadan sungai ketika debit air meningkat saat musim hujan.

Dampak lainnya adalah kemungkinan terganggunya bangunan pengambilan air atau intake PDAM. Jika tidak ditangani, kondisi itu dikhawatirkan memengaruhi pasokan air baku dan pelayanan kepada pelanggan.

Hermawan menjelaskan, Bendung Boro memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air bersih. Bendung tersebut melayani jaringan irigasi sekitar 5.126 hektare. Sementara Bendung Boro 1 dan Bendung Boro 2 menjadi salah satu sumber air baku bagi wilayah Purworejo, Banyuurip, Purwodadi hingga kawasan timur Sungai Bogowonto, termasuk Cangkrep dan Sidomulyo.

“Harapannya, melalui pengerukan ini, daya rusak air bisa dikurangi, terutama saat banjir. Selain itu, kapasitas tampungan dan cadangan air baku dapat meningkat sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat Purworejo tidak terganggu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Wali Kota Pekalongan Aaf Dorong Generasi Muda Contoh Veteran dan Perkuat Nasionalisme

BACA JUGA: Panggil Bawahannya Saja, DPRD Rembang 'Tak Berani' Seret Bupati Harno di Skandal Anggaran Rakyat!

Ia berharap pengerukan tidak hanya dilakukan pada tahap awal. Mengingat endapan telah menumpuk dalam waktu lama, pemeliharaan Bendung Boro perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan setiap tahun hingga fungsinya kembali optimal.

Hermawan juga menyebut sedimentasi yang terbawa dari kawasan hulu, termasuk yang menurutnya berkaitan dengan dampak pembangunan Bendung Bener, turut mempercepat penumpukan endapan di Bendung Boro.

Sementara itu, Pelaksana Pengusahaan Perum Jasa Tirta I, Rofi Budiarto, mengatakan pengerukan tersebut merupakan bagian dari program kerja sama dengan BBWS Serayu Opak sebagai pengelola wilayah sungai.

“Untuk kegiatan pengerukan ini memang merupakan program kami bersama BBWS Serayu Opak. Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN pengelola sumber daya air mendapat penugasan untuk ikut mengelola wilayah sungai, termasuk di Bendung Boro,” jelas Rofi.

BACA JUGA: Gerabah Gebangsari Kebumen, Warisan Turun-Temurun yang Kini Jadi Eduwisata

BACA JUGA: Kepala Sekolah Tak Hadir Saat Pemakaman Aqib, Keluarga Sebut Belum Ada Permintaan Maaf

Menurut Rofi, lokasi pengerukan ditentukan melalui sinkronisasi program antara Perum Jasa Tirta I dan BBWS Serayu Opak setiap tahun. Pada 2026, Bendung Boro menjadi salah satu lokasi yang mendapat penugasan.

Ia mengatakan, pelaksanaan pengerukan ini merupakan hasil koordinasi yang telah berlangsung cukup lama dengan PDAM Tirta Perwitasari. Usulan tersebut kemudian diperkuat melalui surat Bupati Purworejo kepada BBWS Serayu Opak pada 2025.

“Setelah dikoordinasikan dan disinkronisasikan dengan BBWS, akhirnya kegiatan pengerukan di Bendung Boro ini bisa dilaksanakan pada 2026,” ujarnya.

Dalam pengerjaan tersebut, material sedimentasi diangkat dari tampungan bendung dan dipindahkan ke tanggul. Material tidak dikeluarkan dari kawasan karena merupakan aset BBWS.

BACA JUGA: Rumah Direnovasi, Warga Lebaksiu Tegal Juga Sumringah Dapat Listrik Gratis dari Polisi

BACA JUGA: SI JAKWIR, Inovasi SMP Negeri 19 Tegal Kawal Karakter dan Kebiasaan Positif Murid

Rofi menambahkan, pengerukan merupakan bagian dari program pemeliharaan sumber daya air yang dilaksanakan Perum Jasa Tirta I di sejumlah wilayah. Penentuan lokasi pekerjaan setiap tahun disesuaikan dengan hasil koordinasi bersama BBWS.

Selain pengerukan Bendung Boro, PDAM Tirta Perwitasari juga merencanakan kerja sama konservasi sumber mata air di wilayah Loano dan sekitarnya. Program tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan sumber air melalui pemeliharaan mata air dan penanaman vegetasi konservasi.

Kolaborasi antara PDAM Tirta Perwitasari, Perum Jasa Tirta I, dan BBWS Serayu Opak diharapkan tidak hanya menjaga infrastruktur sumber daya air, tetapi juga mendukung keberlanjutan pasokan air baku bagi masyarakat Purworejo.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait