1.000 Canting Warnai Hari Batik Nasional di Kebumen, Pelajar Diajak Kreatif dan Lestarikan Budaya
Pelajar SMA Negeri 1 Klirong mengikuti kegiatan Batik Kolosal Kontemporer 1.000 Canting untuk memperingati Hari Batik Nasional 2026 di GOR sekolah.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Seribu canting bergerak serentak di tangan para pelajar SMA Negeri 1 Klirong, Kabupaten KEBUMEN, dalam peringatan Hari Batik Nasional 2026. Melalui kegiatan Batik Kolosal Kontemporer 1.000 Canting, para siswa tidak hanya diajak mengenal warisan budaya bangsa, tetapi juga mengasah kreativitas dan keterampilan membatik.
Kegiatan yang berlangsung di GOR SMA Negeri 1 Klirong, Jumat (2/10/2026) tersebut memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan batik. Mereka menuangkan ide dan kreativitas melalui motif serta karya batik kontemporer.
Peringatan Hari Batik Nasional juga berlangsung di SMA Negeri 1 Kebumen. Di sekolah tersebut, kegiatan dirangkai dengan peluncuran Bulan Bahasa yang memadukan pelestarian budaya, bahasa, dan ekspresi kreatif para siswa.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengatakan, pelestarian batik harus melibatkan generasi muda agar warisan budaya Indonesia tetap lestari dan mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.
BACA JUGA: Dari Buta Huruf hingga ABK, Program SDM Antar Walikota Pekalongan Raih Penghargaan Nasional
BACA JUGA: Wali Kota Pekalongan Aaf Dorong Generasi Muda Contoh Veteran dan Perkuat Nasionalisme
Menurutnya, batik tidak cukup hanya dikenalkan melalui teori atau pembelajaran di kelas. Para pelajar perlu diberikan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan secara langsung proses pembuatan batik.
"Generasi muda harus mengenal dan mencintai budaya bangsa, salah satunya batik. Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang batik, tetapi juga bisa mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya sendiri," ujarnya.
Lilis menilai, keterlibatan pelajar dalam kegiatan membatik menjadi salah satu upaya menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya sekaligus membangun keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga batik tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari kreativitas generasi muda.
BACA JUGA: Panggil Bawahannya Saja, DPRD Rembang 'Tak Berani' Seret Bupati Harno di Skandal Anggaran Rakyat!
BACA JUGA: Kepala Sekolah Tak Hadir Saat Pemakaman Aqib, Keluarga Sebut Belum Ada Permintaan Maaf
"Jangan sampai generasi muda hanya mengenal batik sebagai pakaian atau produk jadi. Mereka juga perlu memahami proses pembuatannya, nilai seni, filosofi, dan potensi yang dimiliki batik," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
