Tembak Menembak

Tembak Menembak

Catatan DIS'Way Jateng --

Kalau saya sih biasa saja, ndak kepo tentang motif . Yang namanya emosi manusia, kerap bikin susah. Gegara tiga penggal kata : "Apa liat-liat", bikin sajam menoreh petaka. Apalagi masalah 17+. Yang bahkan bisa mencetak banyak pendeta dan ulama palsu, di tempat pendididkan agama. Mari pindah fokus, wis gak enak situasi nya. Bangun tidur ,seduh kopi, pentang mata ,buka ,baca berita, itu-itu aja. Urusan 17+. Ndak lama juga nanti digiring berita baru. Kepo lagi . Sampai ngawang , Kok gak habis-habisnya itu berita yang bikin kepo. Yah sudah, sruput kopinya, kerja. Greeeng, bah, ketemu baligo pula. Dimana-mana. Dunia oh dunia. Oh Rusia. Oh Palestina. Oh Rwanda, Oh Yaman. Ada "teman mengeluh" kelar di kepoin oleh berita. "Ndak usah sok mikir", tuh ban motor sudah gundul. Kampas rem dah seperti mencit kepijek" Merona, yah sudahlah.

yea aina

Motif pelaku yang dinyatakan pak Mahfud, seperti "diarahkan" tetap sejalan skenario versi dalang di awal cerita. Bisa diduga, kasus ini hanya akan mengungkap peristiwa di duren tiga saja. Publik tak usah berharap akan ada pengungkapan motif lainnya. Jika awalnya alm J adalah korban, kemudian E sebagai martir, akhirnya FS sebagai tumbal. Karena FSlah yang dikobarkan atas kerahasiaan motif lain tersebut. Kalau hanya sebatas cemburu, pengungkapan tidak memakan waktu sebulan, itupun dengan bumbu pembelaan dari beberapa petinggi institusi Polri dan pejabat negri ini. Ganjil saja, pasti ada motif lain. Karena semua pihak yang terlibat atas "motif lain" pasti berupaya melokalisir hanya di motif cemburu (hanya orang dewasa) itu saja.Sewajarnya anda semua sudah tahu.

Er Gham

Dalam suasana mendung udan, sang bintang wanita terkepung cendol di labirin polkam.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: