Oleh: Masrukhi,S.Pd.I ; M.Pd.I
Kepala SMP N 19 Kota Tegal
Dulu, untuk mencari sebuah informasi, seorang siswa harus pergi ke perpustakaan, membuka ensiklopedia yang tebal, dan mencatatnya satu per satu. Hari ini, cukup dengan mengetik di ponsel, semua jawaban tersedia dalam hitungan detik. Itulah wajah pendidikan di era digital.
Transformasi ini adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana mengarahkan teknologi tersebut untuk kemaslahatan pendidikan. Di sinilah letak tantangan terbesar kita. Jika dilihat, ada setidaknya tiga pergeseran besar yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini.
Pertama, Dari Papan Tulis ke Layar Sentuh
Kurikulum Merdeka yang dicanangkan pemerintah telah mendorong digitalisasi di sekolah. Hampir semua sekolah di wilayah Pantura, termasuk Tegal, Brebes, Pemalang, dan Banyumas, kini sudah menggunakan platform digital. Presensi online, rapor digital, ujian berbasis android, hingga pembelajaran menggunakan chromebook sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Di satu sisi, ini adalah kemajuan yang luar biasa. Pembelajaran menjadi lebih efisien, kreatif, dan tidak membosankan. Guru bisa menampilkan video pembelajaran, simulasi, dan materi interaktif yang membuat siswa lebih mudah paham.
Namun, di sisi lain, kita menghadapi jurang yang nyata, yaitu kesenjangan digital. Faktanya, tidak semua siswa memiliki akses yang sama. Di beberapa desa di wilayah selatan Kabupaten Tegal dan pegunungan di Banyumas, sinyal internet masih menjadi barang mewah. Tidak semua orang tua mampu membelikan gawai yang layak untuk anaknya.
Ada siswa yang harus bergantian ponsel dengan orang tuanya untuk mengerjakan tugas. Jika kesenjangan ini tidak segera diatasi dengan pemerataan infrastruktur dan bantuan sarana, digitalisasi justru akan menciptakan ketimpangan baru dalam pendidikan.
Kedua, Krisis Karakter di Tengah Banjir Informasi
Ini adalah tantangan yang paling mengkhawatirkan. Era digital adalah era banjir informasi. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi guru kedua bagi anak-anak kita. Kontennya ada yang baik, tetapi tidak sedikit yang merusak. Kita melihat fenomena yang memprihatinkan.
Siswa lebih hafal tren joget di TikTok daripada lagu-lagu nasional, lebih fasih berbahasa gaul di media sosial daripada berbahasa santun kepada guru dan orang tua. Budaya instan, ingin cepat viral, dan kurangnya daya juang mulai menggerogoti.
Di sinilah esensi pendidikan yang sesungguhnya diuji. Ki Hajar Dewantara pernah berkata, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Artinya, pendidikan bukan hanya soal membuat anak pintar matematika atau jago bahasa Inggris. Akan tetapi, bagaimana membuat anak menjadi manusia yang beradab, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Peran guru sebagai pendidik, bukan hanya pengajar, menjadi sangat vital. Keteladanan tidak bisa digantikan oleh YouTube. Nasihat dan sentuhan hati tidak bisa digantikan oleh Artificial Intelligence (AI).
Penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Rohis, Paskibra, dan pembiasaan keagamaan di sekolah harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap.