Senada dengan Sutirto, tokoh masyarakat yang turut bergabung dalam rombongan, Slamet Widodo alias Om Bob, mengkritik keras gaya demonstrasi AMPB yang dinilainya sudah mengarah pada aksi premanisme dan menabrak etika ketimuran.
"Pihak pengadilan sudah menerima audiensi dengan baik, dimanggake, disuguhi. Tetapi contoh apa yang diberikan ini? Mari kita gunakan rasa, kita orang timur, ojo dumeh. Dumeh sekarang sudah menjadi aktivis terkenal terus tidak menggunakan cara yang baik, itu tidak boleh. Pati bukan negeri preman!" bentak Om Bob dengan nada kecewa.
Di sisi lain, Aktivis AMPB, Teguh Istiyanto, meluapkan keprihatinannya atas kemunculan kelompok massa kontra yang terkesan pasang badan membela oknum-oknum pengadilan.
Teguh menyuarakan kecurigaan mendalam bahwa ada pihak-pihak tertentu di internal PN Pati yang sengaja mendatangkan massa loyalis untuk membenturkan sesama warga.
"Tadinya saya menghormati mereka untuk ikut mengawal PN, tapi nyatanya yang dibahas tadi malah memprotes saya terkait masalah Bupati Sudewo. Urusannya apa? Masalah Sudewo itu di PN Tipikor Semarang, bukan di PN Pati. Saya curiga, apa pihak PN ini yang mendatangkan ormas, LSM, dan preman-preman ini? Kalau seperti itu, berarti memang busuk PN Pati ini," cercar Teguh.
BACA JUGA: Kebakaran TPA Jatibarang Hampir Dua Pekan, Titik Panas Kini Tersisa 0,163 Hektare
BACA JUGA: 449 Prajurit Yonif 410/Alugoro Kembali ke Blora, Satu Prajurit Gugur di Papua
Terkait desakan massa kontra agar insiden penyiraman air terhadap Jubir PN Pati diseret ke ranah hukum, pihak AMPB menegaskan tidak akan mundur selangkah pun dan siap menghadapi segala proses hukum yang berjalan.
"Kalau memang perbuatan kami ada unsur pelanggaran hukum, silakan diproses, kami siap-siap saja. Tapi kami kawal agar hukum berkeadilan, jangan ada kriminalisasi. Siapa yang melaporkan nanti akan kami laporkan balik! Fokus AMPB cuma dua: melawan pejabat ruwet dan melawan kebijakan yang menindas rakyat," pungkas Teguh menantang.