"Prinsipnya kita pada posisi zero tolerance terhadap accident khusus di Kabupaten Batang," tegas Faiz.
Sebagai bagian dari langkah pencegahan, Pemkab Batang mengerahkan Satuan Tugas (Satgas) MBG yang dipimpin Wakil Bupati Batang Suyono.
Satgas tersebut ditugaskan memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan seluruh unit pelayanan MBG di Kabupaten Batang. Pengawasan melibatkan pengelola unit pelayanan, pihak yayasan, ahli gizi hingga kepala dapur.
Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan proses pelayanan MBG berjalan sesuai ketentuan sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan persoalan di lapangan.
Bupati Tunggu Hasil Pemeriksaan
Faiz mengatakan pemerintah daerah belum dapat memastikan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Ia menyebut hasil laboratorium nantinya akan dicocokkan dengan kronologi kejadian serta hasil audit di lapangan. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai faktor yang menyebabkan insiden.
Pola pemeriksaan serupa juga diterapkan dalam penanganan dugaan keracunan pada program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu yang terjadi sebelumnya.
"Kita lakukan treatment yang sama, melakukan audit apa yang menjadi penyebabnya. Nanti hasil uji lab menentukan, lalu dicocokkan dengan kronologisnya untuk melihat apakah ini human error, kelalaian koordinasi, atau ada unsur lain," jelasnya.
Faiz mengatakan seluruh pasien yang terdampak dugaan insiden PMT tersebut telah pulih dan kembali ke rumah.
Sementara dalam penanganan kasus MBG, pemerintah daerah memprioritaskan pelayanan medis terhadap masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Pemkab Beri Bantuan bagi Pendamping Pasien
Selain memastikan penanganan medis, Pemkab Batang juga memberikan bantuan kepada sejumlah keluarga yang mendampingi pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Bantuan tersebut diberikan sebagai kompensasi pengganti bagi keluarga yang harus meninggalkan aktivitasnya untuk mendampingi pasien.
"Kemarin ada beberapa KK yang sudah kita distribusikan bantuan kompensasi pengganti penunggu rumah sakit. Besarnya bervariasi, ada yang mendapatkan Rp300.000 hingga Rp475.000, tergantung durasi mereka mendampingi pasien di rumah sakit," ungkap Faiz.
Ia menegaskan penanganan masyarakat menjadi prioritas pemerintah daerah selama proses pemeriksaan berlangsung.
Di sisi lain, terkait kondisi pasien MBG, Faiz sebelumnya menyampaikan sebagian besar warga yang terdampak telah menyelesaikan perawatan. Namun, laporan terbaru Dinkes Batang pada pukul 10.00 WIB mencatat masih terdapat sembilan pasien yang menjalani rawat inap.
Perbedaan informasi tersebut berkaitan dengan waktu pembaruan data. Karena itu, kondisi pasien dalam naskah ini mengacu pada laporan Dinkes Batang yang diterima pada pukul 10.00 WIB.