"Pada kuah sop dan ayam woku hasil pemeriksaan positif bacillus yang seharusnya negatif. Bacillus cereus salah satu bakteri penyebab keracunan makanan dengan gejala yang saya sebut di atas," ujar Nur Betsia.
Di titik inilah persoalan menjadi penting. Jika hasil tertulis laboratorium hanya menunjukkan Bacillus sp., publik membutuhkan penjelasan apakah terdapat pemeriksaan lanjutan yang mengidentifikasi bakteri tersebut sebagai Bacillus cereus.
Jika memang ada pemeriksaan lanjutan, hasil tersebut semestinya dapat dijelaskan agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman antara dokumen laboratorium dan keterangan pemerintah daerah.
Air Sumur Juga Positif E. coli
Selain makanan, pemeriksaan dilakukan terhadap sumber air di SPPG Sukorejo 2. Hasil pemeriksaan menunjukkan air sumur mengandung E. coli sebanyak 200, sedangkan air yang digunakan untuk memasak tercatat memiliki E. coli 0 atau negatif.
Dinkes menjelaskan air sumur digunakan untuk mencuci, sedangkan air untuk memasak berasal dari air minum atau air isi ulang.
"Air sumur untuk mencuci, yang dimasak air ulang/minum," kata Nur Betsia.
Namun, keberadaan E. coli pada sumber air yang berada di lingkungan dapur tetap menjadi catatan dalam evaluasi sanitasi dan proses pengolahan makanan.
"E. coli apabila proses pemasakan dan lain-lain tidak sesuai prosedur juga menyebabkan keracunan," jelasnya.
Dinkes sendiri menyebut kejadian tersebut tidak semata-mata dikaitkan dengan satu faktor.
"Penyebabnya E. coli pada air sumur dan Bacillus cereus pada kuah sop dan ayam woku dan dipengaruhi juga pada saat proses penyimpanan, pengolahan, pemorsian dan distribusi makanan," ungkapnya.
Publik Menunggu Penjelasan
Perbedaan antara dokumen hasil laboratorium dengan keterangan Dinkes kini menjadi bagian yang perlu diperjelas. Terlebih kasus ini menyangkut dugaan keracunan yang dialami ratusan penerima manfaat MBG.
Pertanyaan sederhananya, apakah Bacillus sp. yang tercatat dalam hasil pemeriksaan memang kemudian dipastikan sebagai Bacillus cereus melalui pemeriksaan lanjutan?
Atau, apakah terdapat dokumen hasil pemeriksaan lain yang menjadi dasar Dinkes menyebut Bacillus cereus?
Penjelasan tersebut penting agar informasi mengenai hasil pemeriksaan tidak berhenti pada kesimpulan, tetapi juga dapat ditelusuri berdasarkan data laboratorium yang menjadi dasar kesimpulan tersebut.
Apalagi, hasil pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dalam mengurai penyebab kejadian yang sebelumnya membuat ratusan penerima manfaat MBG mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Sukorejo 2.
Dengan adanya perbedaan antara dokumen dan keterangan tersebut, klarifikasi dari pihak laboratorium maupun Dinkes Blora masih diperlukan untuk memastikan apa sebenarnya bakteri yang teridentifikasi dalam sampel makanan tersebut.