“Kalau konsisten dikembangkan, Batang Night Carnival bisa menjadi agenda yang dinantikan setiap tahun,” kata Danang.
Ia menekankan, pengembangan event tersebut perlu dibarengi dengan konsep yang matang.
Bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga bagaimana masyarakat dan pelaku UMKM memperoleh manfaat ekonomi selama kegiatan berlangsung.
Danang berharap Batang Night Carnival mampu membuka ruang lebih besar bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Dengan begitu, perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di lokasi acara, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
“Yang terpenting tentu pelaksanaannya tertib, aman, dan memberikan ruang bagi masyarakat serta pelaku UMKM untuk ikut mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Batang Night Carnival menghadirkan 25 kontingen dari berbagai unsur.
Mereka menampilkan kreasi yang mengangkat budaya Kabupaten Batang melalui kendaraan hias, kostum, ornamen, tata cahaya, dan atraksi.
Karya tersebut melibatkan seniman senior dan generasi muda Batang. Mereka berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD) dan Paguyuban Sekar Gading untuk menyiapkan berbagai pertunjukan.
Bagi Danang, keterlibatan masyarakat lokal menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan event.
Kreativitas warga dapat menjadi daya tarik sekaligus memperkuat identitas Batang sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya.
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan sebelumnya mengatakan perubahan konsep dilakukan untuk memberikan pengalaman baru kepada masyarakat.
Pelaksanaan malam hari juga dinilai lebih nyaman karena penonton tidak harus menghadapi terik matahari.
“Karnaval yang biasanya dilaksanakan pada siang hari akan kami ubah menjadi Batang Night Carnival,” kata Faiz.
Selain pertunjukan, kegiatan tersebut juga diisi aksi sosial. Panitia membuka donasi bagi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa melalui sistem QRIS.
Danang menilai perpaduan antara hiburan, budaya, dan kegiatan sosial menjadi nilai tambah.