Bencana Bisa Datang Saat Jam Pelajaran, BPBD Siapkan Sekolah di Batang

Selasa 28-07-2026,15:54 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Ismail F

Dengan begitu, siswa tidak hanya mengandalkan kepanikan atau mengikuti teman ketika bencana terjadi. Mereka memiliki pengetahuan dasar untuk mengambil keputusan dalam situasi darurat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, mengapresiasi penguatan SPAB tersebut. Menurutnya, sekolah yang berada di wilayah rawan bencana setidaknya mendapatkan pengetahuan dan persiapan awal.

Bambang mengatakan edukasi kebencanaan di Batang sebenarnya telah dimulai sejak 2019. Sosialisasi kemudian dilakukan ke sejumlah sekolah yang dinilai memiliki potensi kerawanan bencana.

Program tersebut belum menjadi bagian dari kurikulum utama. Namun, materi kebencanaan diberikan sebagai tambahan pembelajaran bagi peserta didik.

Bagi siswa, materi tersebut bisa menjadi bekal penting di luar pelajaran akademik. Sebab, kemampuan menyelamatkan diri dalam situasi darurat merupakan keterampilan yang bisa digunakan sepanjang hidup.

Kegiatan Bimtek SPAB Kabupaten Batang 2026 digelar selama dua hari. Kegiatan berlangsung pada 28–29 Juli 2026 di Aula Disdikbud Kabupaten Batang.

Sebanyak 50 satuan pendidikan menjadi peserta kegiatan tersebut. Perwakilannya mencakup jenjang TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, SLB hingga pondok pesantren.

Kepala BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, mengatakan kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai formalitas. Sekolah harus benar-benar memahami langkah penanganan ketika bencana terjadi.

"Ini tidak hanya sebatas formalitas," kata Wawan.

Menurut Wawan, tujuan utamanya adalah memastikan peserta didik tidak menjadi korban ketika bencana terjadi. Karena itu, pengetahuan mengenai mitigasi dan evakuasi harus benar-benar dipahami warga sekolah.

Kegiatan tersebut juga menjadi tahap awal memperluas penerapan SPAB di Batang. Peserta yang hadir diharapkan dapat menjadi perwakilan dan menularkan pengetahuan kepada satuan pendidikan lainnya.

Materi yang diberikan tidak berhenti pada teori. Peserta juga belajar membuat peta risiko, menyusun jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, hingga menyiapkan prosedur tanggap darurat.

Peserta juga mengikuti diskusi kelompok dan praktik simulasi evakuasi mandiri. Simulasi dilakukan dengan skenario kebencanaan saat proses pembelajaran berlangsung.

Target akhirnya sederhana, tetapi penting: ketika bencana datang, warga sekolah tidak kebingungan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus menyelamatkan diri.

Adi mengatakan hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki potensi ancaman bencana. Namun, penerapan SPAB di sejumlah daerah masih perlu diperkuat agar lebih terstruktur.

Penguatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Ada BPBD, dinas pendidikan, Kementerian Agama, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Kategori :