SEMARANG, Diswayjateng.com — Fenomena El Nino 2026 diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi kemarau ekstrem tersebut telah diantisipasi dengan peningkatan kesiapsiagaan oleh Dinas Kebakaran Kota Semarang.
Mengacu pada data BRIN, El Nino 2026 disebut akan berlangsung mulai April hingga Oktober dengan intensitas yang lebih kuat.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama di wilayah dengan vegetasi kering dan kawasan padat aktivitas manusia.
Sebagai respons terhadap prediksi El Nino 2026, langkah mitigasi telah disiapkan oleh Dinas Kebakaran Kota Semarang.
Kesiapsiagaan personel hingga peralatan disebut telah ditingkatkan guna menghadapi potensi lonjakan kejadian kebakaran selama musim kemarau panjang.
Selain itu, upaya sosialisasi terkait bahaya kebakaran saat El Nino 2026 juga telah digencarkan kepada masyarakat. Edukasi ini difokuskan pada pencegahan kebakaran yang mayoritas disebabkan oleh kelalaian manusia.
Sekretaris Dinas Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti, menyampaikan bahwa fenomena tahun ini bahkan disebut lebih ekstrem dibanding sebelumnya.
“Dari BRIN sudah disampaikan bahwa tahun ini disebut sebagai ‘Godzilla El Nino’ karena kemarau diprediksi berlangsung panjang, mulai April sampai Oktober 2026,” ujarnya, Senin, 6 April 2026.
Dikatakan, kesiapsiagaan telah dilakukan melalui apel besar yang melibatkan seluruh personel sebagai bentuk antisipasi dini terhadap potensi bencana kebakaran. Langkah tersebut diikuti dengan penguatan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, pengalaman pada 2023 hingga 2024 menunjukkan tingginya angka kebakaran, khususnya kebakaran ilalang. Dalam satu tahun, hampir 100 kejadian tercatat, bahkan dalam sehari bisa terjadi hingga lima kali kebakaran.
“Sebagian besar kebakaran itu disebabkan oleh kelalaian manusia, seperti membakar sampah yang tidak diawasi hingga api merambat,” katanya.
Risiko kebakaran disebut akan meningkat saat musim kemarau panjang karena kondisi vegetasi menjadi lebih kering. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor telah dilakukan, termasuk dengan Satpol PP, kecamatan, kelurahan, hingga aparat keamanan untuk menekan praktik pembakaran sampah.
Di sisi lain, penguatan sarana dan prasarana juga telah dilakukan. Penambahan armada pemadam kebakaran disebut sedang diproses, termasuk kendaraan kecil dan mobil rescue untuk mendukung operasional di lapangan.
“Kesiapan pasukan dan armada terus kami tingkatkan, termasuk penambahan unit yang saat ini sedang dalam proses pengadaan,” jelasnya.
Meski demikian, pendekatan pencegahan disebut lebih diutamakan dibandingkan penanganan saat kebakaran terjadi. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan potensi kerugian, baik material maupun korban jiwa.