Dean pun menyebut bahwa tokoh utama yang punya kelemahan lebih disukai penonton daripada yang sempurna.
"Kunci dari film bagus adalah ceritanya. Kalau kamu punya cerita yang kuat dan bisa menyentuh orang lain, kamu tidak perlu cari penonton—mereka yang akan datang ke cerita kamu," ucap Dean, disambut anggukan antusias para peserta.
Ia juga menyoroti betapa besarnya pengaruh media sosial terhadap perkembangan storytelling masa kini.
Dean saat ini tengah bekerja sama dengan para sineas muda Indonesia menggarap serial pendek berdurasi satu menit untuk media sosial.
"Saya harap pelajaran ini bisa meningkatkan kemampuan bercerita (story telling) mereka," jelasnya.Hal itu sejalan dengan semangat FSAI yang terus berinovasi dalam menghadirkan film sebagai jembatan budaya dua negara.
FSAI 2025 bukan cuma soal film, tapi juga platform belajar yang membumi dan praktikal.
FSAI 2025 menegaskan bahwa industri film tak hanya soal kamera dan editing, tapi dimulai dari sebuah cerita yang hidup—yang mungkin justru berasal dari catatan harian sendiri.
Dengan kota Semarang sebagai panggung barunya, FSAI membuka jalan lebih luas bagi kolaborasi dan pertukaran ide lintas negara.
Dan siapa tahu, dari ruang kecil di Undip hari itu, lahir penulis skenario masa depan Indonesia.