Setiap Hari Dikepung Rob, Perempuan Nelayan Timbulsloko Demak Tak Mau Menyerah
Masnuah, penggerak Puspita Bahari, bersama komunitas perempuan nelayan Timbulsloko yang terus memperjuangkan hak dan kehidupan masyarakat pesisir.-Foto: Samsul/dok.-
DEMAK, diswayjateng.id – Banjir rob dan abrasi yang terus menggerus wilayah pesisir Kabupaten Demak bukan hanya mengancam permukiman warga. Bencana tersebut juga perlahan menghilangkan sumber penghidupan dan ruang kehidupan perempuan nelayan di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung.
Di tengah kondisi tersebut, perempuan nelayan yang tergabung dalam komunitas Puspita Bahari memilih tidak menyerah. Mereka terus berjuang mempertahankan ekonomi keluarga sekaligus memperjuangkan hak masyarakat pesisir untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
Penggerak Puspita Bahari, Masnuah, menjadi salah satu sosok yang mendorong perempuan nelayan agar tetap kuat menghadapi berbagai persoalan di wilayah pesisir.
Bagi perempuan nelayan Timbulsloko, laut merupakan sumber kehidupan. Namun, kondisi lingkungan yang semakin tergerus abrasi dan banjir rob membuat kehidupan mereka semakin berat.
BACA JUGA:Skandal Bu Kades & Anggota DPRD Rembang: Berawal Bisnis, Luluh Janji Manis
BACA JUGA:Buntut Karacunan, PAUD Kid Fun Education Boyolali Ancang-ancang Proses Hukum SPPG
Sawah, ladang, jalan darat hingga tempat bermain anak-anak perlahan hilang akibat genangan air laut yang terus meluas.
Masnuah menilai, perjuangan perempuan nelayan tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya bertahan menghadapi bencana. Lebih dari itu, mereka memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga dan kehidupan masyarakat pesisir.
"Perempuan nelayan bukan sekadar korban perubahan iklim. Mereka juga memiliki kekuatan untuk bergerak, mempertahankan kehidupan, dan memperjuangkan masa depan keluarganya," ujar Masnuah, Kamis (5/11/2026).
Perjuangan tersebut sejalan dengan peringatan Hari Perempuan Nelayan Internasional atau International Fisherwomen's Day yang diperingati setiap 5 November.
Peringatan yang digagas World Forum of Fisher Peoples (WFFP) tersebut menjadi momentum untuk mengakui kontribusi perempuan dalam sektor perikanan dunia.
Dalam manifesto globalnya, WFFP menegaskan perempuan nelayan menyumbang lebih dari 50 persen aktivitas perikanan dunia. Namun, kontribusi tersebut masih kerap luput dari perhatian dalam kebijakan pembangunan dan pengelolaan wilayah pesisir.
Di Timbulsloko, Puspita Bahari berupaya membuktikan bahwa perempuan nelayan mampu menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis iklim.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
