Hujan Baru Beberapa Jam, Semarang Sudah Banjir dan Longsor, DPRD Desak OPD Siaga
Hujan beberapa jam memicu banjir di Banyumanik dan longsor di Kalipancur, Semarang. -diswayjateng.id-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id – Kesiapan organisasi perangkat daerah (OPD) dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di Kota Semarang menjadi perhatian DPRD. Seluruh dinas teknis diminta meningkatkan koordinasi dan memastikan sarana penanggulangan bencana berfungsi optimal menyusul munculnya banjir dan tanah longsor meski hujan baru turun beberapa jam.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah kota. Terlebih, musim kemarau yang berlangsung cukup panjang dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya intensitas hujan ketika musim penghujan tiba.
Beberapa kejadian telah dilaporkan di sejumlah wilayah. Banjir terjadi di kawasan Banyumanik, sedangkan tanah longsor dilaporkan terjadi di Kalipancur setelah tebing di sekitar permukiman warga ambrol dan menutup akses jalan serta teras rumah.
"Saya khawatir juga karena musim kemarau lebih lama dari musim hujan, justru nantinya begitu hujan akan lebih lebat. Tidak hanya seperti tahun lalu, tidak hanya banjir tetapi juga menyebabkan tanah longsor. Ada satu laporan kejadian longsor di wilayah Kalipancur baru saja, tadi malam tebingnya ada yang ambrol dan menutup akses jalan dan teras di salah satu rumah warga, ini mau kita tinjau ke lokasi," ujar Kadarlusman yang akrab disapa Pilus, Selasa (3/11/2026).
BACA JUGA:Obat Nyamuk Bakar Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan Guru di Siwalan Pekalongan
BACA JUGA:Warga Kaliombo Rembang Sumringah, Embung Baru Jadi Solusi Kekeringan hingga Potensi Wisata Desa
DPRD Soroti Kesiapan Pompa dan Penanganan Banjir Semarang
Menurut Pilus, persoalan banjir di Kota Semarang tidak hanya berkaitan dengan tingginya curah hujan. Genangan yang sulit surut dan luapan sungai juga menjadi faktor yang menyebabkan air mengalir hingga ke jalan maupun permukiman warga.
"Tiap tahun banjir pasti terjadi di Kota Semarang karena ada genangan air yang lama surut, tidak langsung masuk ke saluran sekunder. Jadi, guyuran hujan beberapa jam saja bisa membuat jalan terendam, atau karena genangan air dari jebolan sungai yang meluap sehingga melimpas ke jalan-jalan dan rumah warga," katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah kota diminta mengaktifkan kembali koordinasi lintas organisasi perangkat daerah. Kesiapan peralatan, khususnya pompa air yang berada di bawah kewenangan Dinas Pekerjaan Umum, juga perlu dipastikan sebelum intensitas hujan meningkat.
Ketersediaan bahan bakar menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan agar pompa dapat langsung dioperasikan ketika dibutuhkan. Dengan demikian, penanganan genangan dan banjir bisa dilakukan lebih cepat ketika warga mulai terdampak.
"Baik dari sisi pengisian bahan bakarnya agar sewaktu-waktu pompa dibutuhkan bisa dimaksimalkan fungsinya, untuk membantu warga yang terdampak. Seluruh OPD saya minta siap siaga, terutama dinas teknis untuk turun menanggulangi potensi bencana musim hujan," tegasnya.
Penyumbatan Saluran dan Sampah Berpotensi Memperparah Banjir
Selain kesiapan peralatan, persoalan infrastruktur drainase dan kebersihan lingkungan juga menjadi perhatian DPRD. Pilus menduga penyempitan saluran atau munculnya titik penyumbatan dapat menyebabkan air tidak mengalir sebagaimana mestinya.
Sampah yang menumpuk selama musim kemarau berpotensi terbawa angin dan menyumbat aliran drainase. Kondisi tersebut dapat luput dari pengawasan apabila tidak dilakukan pemeriksaan secara berkala oleh pemangku wilayah maupun dinas terkait.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

