Ketika Canting Menjadi Harapan, Difabel Pekalongan Merintis Jalan Menuju Kemandirian

Ketika Canting Menjadi Harapan, Difabel Pekalongan Merintis Jalan Menuju Kemandirian

Rumah Batik TBIG di Pekalongan membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan membatik. Dari teknik mencanting hingga pemasaran produk, pelatihan ini membuka peluang menuju kemandirian ekonomi.-diswayjateng.id-Wahyu Sulistiyawan

PEKALONGAN, diswayjateng.id – Keterampilan membatik dikembangkan menjadi peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Melalui pelatihan di Rumah Batik TBIG, para peserta belajar membuat batik dengan teknik mencanting, mengecap, hingga pewarnaan, sekaligus menghasilkan produk yang dapat dipasarkan.

Kegiatan yang digagas Koperasi Bangun Bersama bersama Rumah Batik TBIG tersebut berlangsung di Jalan Kampung Singgah RT 12 RW 4, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Program ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, termasuk siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), pelajar sekolah umum, dan mahasiswa yang tertarik mempelajari batik.

Bagi peserta penyandang disabilitas, pelatihan tidak hanya diarahkan pada penguasaan keterampilan membatik. Proses belajar juga disesuaikan dengan kemampuan fisik dan komunikasi masing-masing peserta agar kegiatan dapat diikuti dengan nyaman.

Trainer Rumah Batik TBIG sekaligus pengajar kelas difabel, Akmad Faisal, mengatakan peserta dibimbing secara bertahap untuk mengenal proses pembuatan batik. Metode komunikasi juga disesuaikan, antara lain menggunakan bahasa isyarat sederhana dan tulisan melalui telepon seluler.

BACA JUGA:Pembatik Gen Z Pekalongan Naik Kelas, TBIG Gandeng Desainer Profesional Tembus Pasar Fashion

BACA JUGA:Pegawai Bea Cukai Kudus Angkat Bicara soal Pemeriksaan KPK, Ini Penjelasannya

“Anak-anak difabel ini kami bimbing agar bisa mengenal teknik dasar membatik, mulai dari mencanting, mengecap, hingga pewarnaan. Komunikasi kami lakukan dengan bahasa isyarat sederhana atau teks melalui HP,” kata Faisal, belum lama ini.

Pelatihan Batik Disesuaikan dengan Kemampuan Peserta

Program pelatihan tersebut dibagi menjadi kelas reguler dan kelas inkubasi. Sebanyak sembilan peserta penyandang disabilitas mengikuti kelas inkubasi, sedangkan jumlah keseluruhan peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan mencapai 35 orang.

Pelatihan diselenggarakan selama dua semester. Setiap semester terdiri atas 20 kali pertemuan dengan durasi sekitar dua jam dalam setiap sesi.

Kegiatan belajar dirancang agar peserta dapat mengenali tahapan pembuatan batik secara bertahap. Mulai dari memegang alat, menerapkan teknik dasar, hingga memahami proses pewarnaan, keterampilan diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing peserta.

BACA JUGA:Kagetnya Gen Alpha Lihat Gunung Sampah di TPA Degayu Kota Pekalongan

BACA JUGA:Unik! Polisi Bagikan Sebungkus Garam untuk Pengendara Tertib di Tegal, Operasi Patuh Candi 2026

Menurut Faisal, program tersebut tidak dipungut biaya dan terbuka bagi masyarakat yang berminat belajar membatik, khususnya siswa SLB dan warga sekitar. Pendaftaran dapat dilakukan melalui formulir yang tersedia di lokasi.

Jadwal pelatihan juga disesuaikan dengan kegiatan pendidikan peserta. Kelas dilaksanakan pada sore hari, sekitar pukul 13.00 hingga 15.00, sehingga pelajar tetap dapat mengikuti kegiatan setelah menyelesaikan aktivitas sekolah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: