Karhutla Gunung Sumbing Berulang, Warga Minta Embung hingga Drone untuk Cegah Api Meluas
Warga Desa Wonosari, Temanggung, mengusulkan pembangunan embung, sumur resapan, dan penyediaan drone untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran Gunung Sumbing.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
TEMANGGUNGm diswayajteng.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing kembali menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana. Setelah api dinyatakan padam 100 persen pada Sabtu (24/10/2026), warga Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, mendorong penyediaan infrastruktur air dan peralatan pemantauan kebakaran.
Usulan yang disampaikan warga meliputi pembangunan embung di kawasan Perhutani, pembuatan sumur resapan, penyediaan jalur penyelamatan, hingga pengadaan pesawat tanpa awak atau drone untuk mendeteksi titik api lebih awal.
Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menyampaikan usulan tersebut saat berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Basecamp Bimawari, Minggu (25/10/2026).
Menurut Agus, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing memiliki pola berulang dalam rentang waktu sekitar delapan tahun. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi agar penanganan kebakaran berikutnya bisa dilakukan lebih cepat.
BACA JUGA: Dansa Semarang Sabet 7 Medali di Porprov Jateng 2026, Amira Berprestasi meski Cedera Paha
BACA JUGA: Bintang The Raid, Tegar Satrya Tantang Sineas Muda Kota Semarang Tembus Film Nasional
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketersediaan air. Saat kemarau, warga tidak hanya menghadapi ancaman kebakaran, tetapi juga kesulitan memperoleh air bersih.
“Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu, jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api,” kata Agus.
Ia menambahkan, kebakaran di kawasan gunung dapat berdampak terhadap sumber mata air yang digunakan masyarakat. Pemulihan debit air setelah terdampak kebakaran, menurutnya, bisa membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
Karena itu, warga berharap pembangunan sarana penampungan air dan sumur resapan menjadi bagian dari upaya mitigasi, bukan hanya dilakukan setelah bencana terjadi.
BACA JUGA: 14 Remaja di Kudus Diamankan Polisi Gara-gara Diduga Hendak Tawuran
“Kalau ada sumur resapan di daerah Perhutani, itu akan membantu kestabilan sumber mata air warga. Di desa kami sudah ada sekitar 200 sumur resapan,” imbuhnya.
Warga Usulkan Drone untuk Deteksi Dini
Selain infrastruktur air, warga juga mengusulkan pengadaan peralatan yang dapat digunakan oleh masing-masing basecamp di kawasan Gunung Sumbing.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

