Menyingkap Buku Gus Dur, Tuhan Tidak Butuh Dibela
--
Oleh: Khamdan
(Guru SDN Slerok 4, Alumni Pon.Pes MQ Tebuireng, dan Alumni Pasca Sarjana Unwahas Semarang)
Ada buku-buku yang ditulis untuk menambah pengetahuan, dan ada buku-buku yang ditulis untuk mengguncang kesadaran. Buku kumpulan tulisan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela termasuk dalam kategori yang kedua.
Ia bukanlah sebuah kitab teologi yang sistematis yang disusun dengan kerangka akademik yang kaku, melainkan sebuah kumpulan esai-esai lepas, kolom-kolom pendek, dan catatan-catatan reflektif yang ditulis Gus Dur sepanjang rentang pengembaraannya sebagai seorang intelektual, kiai, budayawan, dan aktivis.
Namun justru dalam “keliaran” dan kelincahannya itulah, buku ini menemukan kekuatan intelektualnya yang luar biasa. Ia tidak berpretensi untuk menjadi sebuah ensiklopedi tentang Islam, tetapi ia berhasil menjadi sebuah cermin yang sangat jernih untuk melihat wajah Islam Indonesia, wajah yang ramah, yang humoris, yang penuh dengan paradoks, tetapi sekaligus wajah yang sedang gelisah menghadapi gelombang puritanisme yang ingin menyeragamkannya.
Judul itu sendiri, Tuhan Tidak Perlu Dibela, adalah sebuah provokasi teologis yang sangat cerdas. Dalam tradisi keberagamaan yang sering kali diwarnai oleh semangat militansi simbolik, di mana orang merasa bahwa agamanya sedang terancam dan Tuhan sedang membutuhkan pembelaan dari umat-Nya, Gus Dur dengan kalimat yang sangat sederhana membalikkan seluruh logika tersebut.
Ia ingin mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Besar, Maha Kuat, dan Maha Sempurna, sehingga Ia tidak membutuhkan pembelaan dari makhluk-Nya yang lemah dan penuh dosa. Justru sebaliknya, manusialah yang perlu dibela oleh Tuhan. Logika ini sekilas tampak sederhana, tetapi implikasi teologis dan sosiologisnya sangat dalam.
Jika Tuhan tidak perlu dibela, maka apa yang selama ini dibela oleh mereka yang mengatasnamakan agama dengan kekerasan, dengan sweeping, dengan pengkafiran, dan dengan pembakaran rumah ibadah orang lain? Yang mereka bela bukanlah Tuhan, melainkan kepentingan politik mereka sendiri, ego mereka sendiri, dan tafsir mereka sendiri tentang Tuhan yang mereka absolutkan.
Gus Dur dengan sangat jeli membedakan antara membela Tuhan dan membela tafsir tentang Tuhan. Yang pertama adalah sebuah kemustahilan teologis, karena Tuhan tidak lemah, sementara yang kedua adalah sebuah kenyataan sosiologis yang penuh dengan kepentingan.
Dengan membedakan dua hal ini, Gus Dur ingin membongkar legitimasi teologis dari semua gerakan kekerasan yang mengatasnamakan agama, karena mereka sesungguhnya tidak sedang membela Tuhan, mereka sedang membela diri mereka sendiri dengan meminjam nama Tuhan.
Untuk memahami argumen Gus Dur ini, kita harus menempatkannya dalam konteks pergulatan pemikiran Islam di Indonesia pada era 1970-an hingga 1990-an. Pada masa itu, Islam Indonesia sedang berada dalam sebuah persimpangan jalan.
Di satu sisi, ada arus yang ingin membawa Islam Indonesia ke arah formalisasi negara, ke arah ideologisasi yang menuntut penerapan syariat secara formal melalui negara. Di sisi lain, ada arus pembaruan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Wahib yang ingin membawa Islam ke arah substansialisasi, yaitu Islam yang lebih menekankan pada nilai-nilai etis dan kemanusiaan, bukan pada simbol-simbol formal.
Gus Dur dengan tegas berada di kubu yang kedua. Bagi Gus Dur, Islam bukanlah sebuah ideologi politik yang harus diperjuangkan untuk merebut kekuasaan, melainkan sebuah etika sosial yang harus diperjuangkan untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, dari kebodohan, dan dari ketidakadilan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
