Tanah Sayung Turun hingga 20 Sentimeter per Tahun, Timbulsloko Hadapi Ancaman Rob Berulang

Tanah Sayung Turun hingga 20 Sentimeter per Tahun, Timbulsloko Hadapi Ancaman Rob Berulang

Genangan rob di kawasan pesisir Sayung menjadi tantangan bagi akses dan aktivitas masyarakat.-Foto: Samsul/dok.-

DEMAK, diswayjateng.id – Ancaman banjir rob di kawasan pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten DEMAK, tidak hanya dipengaruhi kenaikan muka air laut. Penurunan muka tanah atau land subsidence turut memperbesar risiko genangan yang mengancam permukiman dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Dalam fact sheet program perlindungan pesisir Pantai Utara Jawa, penurunan muka tanah di sebagian wilayah Sayung disebut mencapai 10–20 sentimeter per tahun.

Penurunan tanah tersebut menjadi salah satu persoalan yang memperberat kondisi Desa Timbulsloko. Di wilayah ini, abrasi dan genangan rob telah mengubah bentang alam serta memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai fasilitas.

Penurunan muka tanah dapat terjadi akibat sejumlah faktor, termasuk pengambilan air tanah. Ketika permukaan tanah turun, posisi daratan relatif terhadap permukaan laut menjadi semakin rendah sehingga lebih rentan mengalami genangan.

BACA JUGA:Tabungan Rp 250 Juta Diduga Digelapkan, 37 Nasabah Koperasi di Pati Wadul Dinas

BACA JUGA:Loyalis Bupati Pati Nonaktif Sudewo Geruduk Kantor Satpol PP, Protes Pencopotan Spanduk Dukungan!

Pada saat yang sama, perubahan iklim dan kenaikan muka laut relatif meningkatkan tekanan terhadap kawasan pesisir. Dinamika gelombang dan sedimen juga memengaruhi perubahan garis pantai.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, persoalan tersebut membutuhkan penanganan yang terintegrasi.

“Kita juga menghadapi tantangan lain berupa land subsidence, penurunan permukaan tanah akibat ekstraksi air dari dalam tanah. Dan itu semua telah mengancam masyarakat yang ada di pesisir,” ujar AHY dalam konferensi pers di Timbulsloko, Senin (19/10/2026).

Ia menilai perlindungan pesisir perlu menggabungkan pembangunan infrastruktur keras dengan pendekatan alami, seperti pemulihan mangrove.

BACA JUGA:Bobol Rumah di Mertoyudan, Dua Warga Indramayu Ditangkap di Hotel Banyumas

BACA JUGA:Empat Bulan Dilanda Kekeringan, Warga Girijoyo Purworejo Harus Cari Air hingga 2 Kilometer

Pemerintah melalui Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mulai menerapkan pendekatan tersebut di Timbulsloko. Programnya mencakup penanaman mangrove, pemasangan pemecah gelombang HexBRIck, dan pengembangan perlindungan pesisir yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Mangrove diharapkan membantu meredam energi gelombang, sedangkan pemecah gelombang dirancang untuk membantu memerangkap sedimen. Keduanya menjadi bagian dari sistem perlindungan yang juga dapat mencakup tanggul pantai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait