GURU SD: Penjaga Gerbang Pertama Peradaban yang Paling Dilupakan

GURU SD: Penjaga Gerbang Pertama Peradaban yang Paling Dilupakan

--

Oleh: Zubaedah, S.Pd SD

Kepala Sekolah SDN Slerok 4 dan Kapusdiklatcab Kwarcab Kota Tegal

 

Jika kita membayangkan pendidikan sebagai sebuah bangunan yang megah, maka Guru Sekolah Dasar atau Guru SD adalah fondasinya. Ia adalah batu pertama yang diletakkan, ia adalah penjaga gerbang pertama yang menentukan apakah seorang anak akan masuk ke dalam istana ilmu dengan rasa cinta atau dengan rasa takut, dengan rasa ingin tahu atau dengan rasa trauma.

Namun ironisnya, dalam hierarki wacana pendidikan kita, Guru SD adalah sosok yang paling sering dilupakan, paling sering diremehkan, dan paling jarang dibicarakan secara serius. Kita lebih sering berdebat tentang kurikulum di perguruan tinggi, tentang kualitas dosen, tentang revolusi di SMA, tetapi kita lupa bahwa semua kehebatan di jenjang yang lebih tinggi itu akan runtuh jika fondasinya rapuh.

Kualitas sebuah bangsa sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa hebat profesornya, melainkan oleh seberapa hebat guru SD-nya.

Mengapa Guru SD begitu penting dan sekaligus begitu dilupakan? Jawabannya terletak pada sebuah kesalahpahaman filosofis yang sangat mendasar tentang apa itu mendidik di tingkat dasar.

Banyak orang, bahkan termasuk para pengambil kebijakan, menganggap bahwa mengajar di SD itu mudah. Alasannya sederhana, materinya hanya calistung, baca, tulis, hitung, ditambah sedikit pengetahuan alam dan sosial yang sederhana. Siapa saja bisa mengajarkannya. Pandangan inilah yang merupakan kesalahan fatal pertama.

Mendidik di SD bukanlah tentang mentransfer materi, melainkan tentang membentuk manusia. Seorang dosen di perguruan tinggi hanya berurusan dengan otak orang dewasa yang sudah jadi, yang sudah bisa berpikir abstrak. Ia hanya perlu memberikan teori. Tetapi seorang Guru SD berurusan dengan sesuatu yang jauh lebih rumit, yaitu jiwa, karakter, dan saraf seorang anak kecil yang sedang dalam masa emas pembentukannya.

Ia berurusan dengan anak yang baru pertama kali belajar bagaimana cara memegang pensil, bagaimana cara antri, bagaimana cara berbagi mainan dengan teman, bagaimana cara mengelola rasa marah ketika diejek, dan bagaimana cara mengelola rasa takut ketika salah menjawab.

Pekerjaan ini bukan pekerjaan transfer pengetahuan, ini adalah pekerjaan pembentukan peradaban dari nol. Dan pekerjaan seperti ini membutuhkan keahlian yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menguasai materi.

Guru SD adalah seorang psikolog pertama bagi anak. Ia adalah orang pertama di luar keluarganya yang akan membentuk konsep diri seorang anak. Jika Guru SD dengan sabar mengatakan kepada seorang anak yang lambat membaca, tidak apa-apa, kamu hebat, ayo kita coba lagi pelan-pelan, maka anak itu akan tumbuh dengan konsep diri bahwa ia adalah seorang pembelajar yang mampu.

Tetapi jika Guru SD dengan kasar mengatakan, kamu bodoh, kamu lambat, maka cap bodoh itu akan menempel di benak anak itu seumur hidup, dan ia akan tumbuh menjadi manusia yang membenci sekolah. Satu kalimat dari Guru SD bisa menentukan apakah seorang anak akan menjadi seorang ilmuwan yang percaya diri atau menjadi seorang yang putus sekolah karena merasa tidak berharga. Kekuatan sebesar ini tidak dimiliki oleh dosen mana pun.

Guru SD juga adalah seorang filsuf pertama yang mengajarkan etika secara konkret. Di SD-lah seorang anak pertama kali belajar tentang apa itu keadilan, ketika ia melihat gurunya membagi perhatian secara adil kepada semua murid, tidak hanya kepada yang pintar dan kaya. Di SD-lah ia belajar tentang apa itu kejujuran, ketika ia melihat gurunya berani mengakui salah ketika salah menilai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: