‘Merdeka Harus Bebas dari Korupsi’, Pesan Kuat di Teatrikal Pertempuran Lima Hari Semarang
Teatrikal Pertempuran Lima Hari di Semarang di Tugu Muda menghidupkan kembali kisah perjuangan para pahlawan-diswayjateng.id-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id – “Merdeka itu bukan sekadar mengusir penjajah pergi, melainkan merdeka itu bebas dari korupsi.” Seruan tersebut terdengar lantang di kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu malam (14/10/2026). Kalimat yang disampaikan salah satu pemain teatrikal itu menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti setelah penjajah meninggalkan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan melalui pertunjukan teatrikal yang mengangkat kembali kisah Pertempuran Lima Hari di Semarang. Peristiwa bersejarah yang menelan banyak korban jiwa itu diperagakan oleh ratusan anak muda yang tergabung dalam Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus Semarang, bersama mahasiswa serta pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA.
Di tengah keramaian kawasan Tugu Muda, sejarah tidak hanya disampaikan melalui cerita atau teks yang dibacakan. Peristiwa masa lalu dihadirkan kembali melalui adegan pertempuran, suara kentongan, pergerakan pemain, hingga suasana mencekam ketika lampu di sekitar monumen dipadamkan.
Ribuan warga yang memadati kawasan Bundaran Tugu Muda menyaksikan rangkaian adegan tersebut. Mereka diajak mengikuti kembali suasana Kota Semarang pada masa perjuangan, ketika kabar penyerangan, pembakaran kampung, dan gugurnya para pejuang menyebar di tengah masyarakat.
Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan mengenang sejarah. Melalui keterlibatan generasi muda, peristiwa tersebut juga dijadikan ruang pembelajaran tentang keberanian, pengorbanan, persatuan, dan tanggung jawab meneruskan cita-cita kemerdekaan.
BACA JUGA:32 Guru SMP Di Tegal Digembleng Digitalisasi, Pembelajaran Dituntut Naik Kelas
Teatrikal Pertempuran Lima Hari di Semarang Menghadirkan Suasana Mencekam
Pertunjukan diawali dengan pembacaan cuplikan sejarah perjuangan pemuda dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang oleh budayawan Sukirno. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bertindak sebagai inspektur upacara dalam rangkaian peringatan tersebut.
Suasana kemudian berubah ketika teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan. Lampu yang menerangi kawasan Tugu Muda dipadamkan untuk mendukung penggambaran suasana perjuangan pada masa itu.
Dalam kegelapan, rombongan tentara Jepang diperagakan memasuki kawasan pertunjukan menggunakan kendaraan jip. Gerakan para pemain dan teriakan warga yang digambarkan berusaha menyelamatkan diri membuat suasana semakin tegang.
Peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian dari rangkaian Pertempuran Lima Hari di Semarang kemudian diperagakan secara berurutan. Kabar mengenai dugaan peracunan tandon air di kawasan Wungkal menjadi salah satu pemicu ketegangan dalam cerita.
Dokter Kariadi dikisahkan berusaha memastikan kebenaran kabar tersebut. Sebagai dokter yang memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat, ia digambarkan berupaya menjalankan tugasnya di tengah situasi yang semakin tidak menentu.
Namun, ketegangan tidak berhenti pada kabar mengenai air yang diduga diracuni. Suara kentongan kemudian memecah keheningan setelah muncul kabar bahwa Kampung Batik dan Sobokarti dibakar.
Adegan itu memperlihatkan bagaimana informasi mengenai ancaman dan kekerasan menyebar dari satu tempat ke tempat lain. Warga digambarkan berada dalam situasi penuh kecemasan, sementara upaya untuk memastikan kebenaran kabar terus dilakukan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

