Minim LPJU, Akses Dasun–KUA Lasem Rusak Parah dan Kerap Dipakai Mesum
Akses jalan desa yang menghubungkan Desa Dasun dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. - diswayjateng/ezra ---
REMBANG, diswayjateng.id – Akses jalan desa yang menghubungkan Desa Dasun dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, menuai keluhan dari warga setempat.
Ruas jalan yang akrab disapa warga sebagai "Jalan Cinta" tersebut dinilai sangat membahayakan pengendara, terutama pada malam hari, lantaran kondisi jalannya yang rusak parah dan minim penerangan.
Tak hanya rawan kecelakaan, kondisi jalan yang gelap gulita saat malam hari kerap disalahgunakan oleh sejumah oknum. Ruas jalan ini kerap dijadikan lokasi ajang balapan liar hingga tempat nongkrong muda-mudi untuk berbuat asusila, khususnya saat akhir pekan.
BACA JUGA: Mahasiswa PPG PPKN UPS Tegal Hidupkan Literasi Masjid
BACA JUGA: Warga Gunungrowo Blora Mulai Kesulitan Air Bersih, Sumur Menipis
Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Rembang, Pujon Santoso, buka suara. Ia membenarkan bahwa kondisi infrastruktur di jalur tersebut mengalami kerusakan yang cukup prihatin.
"Itu sebagian kan jalannya ambrol, Maksudnya rusak parah. Nah, itu memang butuh penanganan segera," ujar Pujon saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).
Pujon menceritakan, saat dirinya masih bertugas di Komisi III yang membidangi masalah infrastruktur, pihak legislatif sebenarnya sudah mengusulkan pengadaan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) di sepanjang ruas jalan tersebut.
Namun, Dinas Perhubungan (Dishub) baru bisa mengalokasikan sekitar 10 titik penerangan karena terkendala ketiadaan jaringan atau tiang listrik PLN di sepanjang jalur tengah.
"Dari Dishub hanya bisa memberi lampu sekitar 10 titik. Dari wilayah timur disambungkan tiang listrik hanya di-ACC 5 titik, terus dari barat juga 5 titik. Jadi yang bagian tengah-tengah itu masih gelap gulita," jelasnya.
Kondisi jalur tengah yang minim cahaya inilah yang kemudian memicu berbagai tindakan negatif dari kalangan remaja maupun pasangan muda-mudi.
"Karena di situ gelap, sering digunakan anak-anak remaja buat trek-trekan (balap liar). Selain itu juga sering dijadikan ajang mesum bagi pasangan muda-mudi yang senangnya nongkrong di tempat gelap. Ini tentu memberi efek yang kurang baik bagi generasi kita," tegas Pujon.
Guna mengatasi kendala tidak adanya jaringan listrik PLN di kawasan tersebut, Pujon mendorong Dinas Perhubungan untuk memanfaatkan inovasi teknologi ramah lingkungan, yakni LPJU berbasis solar cell atau panel surya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

