Dari Tradisi Jadi Rekor, 3.200 Civitas UIN Sunan Kudus Kompak Berbusana Kudusan

Dari Tradisi Jadi Rekor, 3.200 Civitas UIN Sunan Kudus Kompak Berbusana Kudusan

Ribuan civitas UIN Sunan Kudus mengenakan busana adat Kudusan secara serentak dalam pencatatan Rekor MURI 2026.-Foto: Samsul-

KUDUS, diswayjateng.id – Bukan sekadar seragam kampus. Busana adat Kudusan kini menjadi bagian dari identitas civitas academica UIN Sunan Kudus. Konsistensi tersebut berbuah penghargaan nasional setelah sebanyak 3.200 orang mengenakan busana Kudusan secara bersamaan dan tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) 2026.

Ribuan mahasiswa, dosen, dan pegawai UIN Sunan Kudus kompak mengenakan pakaian adat khas Kudus. Aksi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan perguruan tinggi modern.

Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Abdurrohman Kasdi, menyambut baik penghargaan tersebut. Ia menilai capaian MURI bukan hanya soal jumlah peserta, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian kampus terhadap potensi daerah dan kearifan lokal.

BACA JUGA:Empat Capaian HIV di Demak Masih Perlu Digenjot, Dinkesda Perkuat Pendampingan ODHIV

BACA JUGA:Masyarakat Boyolali Kesulitan Air Bersih, Kekeringan Berdampak ke 13.098 KK

“Penghargaan ini sebagai wujud kepedulian UIN Sunan Kudus pada potensi daerah dan local wisdom, sekaligus mengangkat citra daerah. Semoga prestasi ini menginspirasi kita semuanya,” tegasnya saat dikonfirmasi, Minggu (5/10/2026).

Menurutnya, pelestarian budaya perlu dilakukan secara nyata dan melibatkan generasi muda. Lingkungan kampus menjadi salah satu ruang strategis untuk mengenalkan sekaligus menjaga keberadaan budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Sunan Kudus, Prof. Kisbiyanto, mengatakan penggunaan busana Kudusan sebenarnya bukan kegiatan yang baru dilakukan untuk mengejar rekor.

Tradisi tersebut telah berjalan secara konsisten di lingkungan kampus. Setiap tanggal 23 setiap bulan, civitas academica UIN Sunan Kudus mengenakan busana adat Kudusan.

“Mahasiswa UIN Sunan Kudus bersama dosen dan pegawai berkolaborasi dalam menjaga tradisi lokal berupa pakaian Kudusan. Setiap tanggal 23 setiap bulan, civitas akademika memakai baju adat Kudusan,” jelasnya.

Penggunaan busana Kudusan juga diterapkan dalam berbagai momentum nasional dan keagamaan. Di antaranya peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus, Hari Amal Bakti Kementerian Agama setiap 3 Januari, Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober, serta berbagai kegiatan lainnya.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk mendapatkan rekognisi nasional. Pimpinan bidang kemahasiswaan bersama Tim Subbag Kemahasiswaan, DEMA, dan mahasiswa berdiskusi menentukan sejumlah bidang yang dinilai berpotensi memperoleh penghargaan MURI.

Dua bidang yang dirumuskan yakni penanaman pohon dan penggunaan busana adat Kudusan.

Dari dua gagasan tersebut, busana Kudusan akhirnya menjadi capaian yang berhasil memperoleh rekognisi nasional. Jumlah peserta yang mencapai 3.200 orang secara bersamaan menjadi faktor penting dalam pencatatan rekor tersebut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait