Gerabah Gebangsari Kebumen, Warisan Turun-Temurun yang Kini Jadi Eduwisata
Eduwisata Gerabah Gebangsari menawarkan pengalaman membuat dan melukis gerabah bagi pengunjung.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Di tengah perkembangan zaman, tradisi membuat gerabah dari tanah liat masih bertahan di Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Bagi masyarakat setempat, gerabah bukan sekadar kerajinan untuk menghasilkan uang. Aktivitas mengolah tanah liat menjadi berbagai peralatan telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gebangsari sejak puluhan tahun lalu.
Kini, tradisi tersebut mendapat wajah baru. Desa Gebangsari tidak hanya dikenal sebagai sentra kerajinan tanah liat, tetapi juga dikembangkan menjadi eduwisata Gerabah Gebangsari (Gegasari).
Pengunjung tidak sekadar membeli produk gerabah. Mereka dapat melihat sekaligus mencoba langsung proses pengolahan tanah liat hingga menjadi kerajinan yang siap digunakan.
BACA JUGA: Truk Kontainer Ludes Terbakar di Tol Pejagan-Pemalang, Diduga Akibat Korsleting
BACA JUGA: SI JAKWIR, Inovasi SMP Negeri 19 Tegal Kawal Karakter dan Kebiasaan Positif Murid
Tradisi Gerabah Gebangsari Bertahan Sejak Puluhan Tahun
Ketua pengelola Eduwisata Gegasari, Sutikno (46), mengatakan tradisi pengolahan tanah liat di Desa Gebangsari telah berlangsung secara turun-temurun.
Menurutnya, aktivitas para pengrajin sudah ada sejak sekitar 1988 dan kemudian diteruskan dari generasi ke generasi.
“Kalau di sini perkiraan pengrajin sudah ada sejak tahun 1988, terus turun-temurun ke anak cucu sampai sekarang,” ujar Sutikno, Jumat (2/10/2026).
Pada masa lalu, hampir sebagian besar masyarakat Desa Gebangsari memiliki keterkaitan dengan kerajinan gerabah.
BACA JUGA: Rumah Direnovasi, Warga Lebaksiu Tegal Juga Sumringah Dapat Listrik Gratis dari Polisi
BACA JUGA: 34 Desa di Kabupaten Tegal Krisis Air Bersih, PMI Gelontorkan 808 Ribu Liter
Sekitar 80 persen warga disebut memiliki leluhur yang berprofesi sebagai pengrajin. Namun, perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda memilih pekerjaan lain, termasuk merantau ke luar daerah.
Sutikno mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan tradisi gerabah di desanya.

--
Eduwisata Gegasari Kenalkan Proses Membuat Gerabah
Upaya mempertahankan kerajinan gerabah kemudian dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya produk gerabah lebih banyak dipasarkan sebagai barang dagangan, pengelola kini menawarkan pengalaman kepada wisatawan melalui konsep eduwisata.
“Kami melakukan survei ke masyarakat luar daerah, golongan anak mudanya bahkan ada yang tidak tahu apa itu gerabah. Oleh karena itu kami membangun pokdarwis tidak untuk menjual barangnya, namun menjual atraksi kegiatan seperti pengolahan bahan, pembuatan, sampai menjadi barang siap jual,” jelas Sutikno.
BACA JUGA: Razia Dini Hari di Kafe Kajen, Polisi Sita Puluhan Botol Miras
Konsep tersebut membuat wisatawan dapat mengenal gerabah bukan hanya sebagai sebuah produk, tetapi sebagai bagian dari proses dan budaya masyarakat.
Mulai dari tanah liat sebagai bahan mentah, proses pengolahan, pembentukan, hingga menghasilkan produk gerabah diperkenalkan kepada pengunjung.
Pengunjung Bisa Membuat dan Melukis Gerabah Sendiri
Eduwisata Gerabah Gebangsari menawarkan paket edukasi yang memungkinkan pengunjung terlibat langsung dalam aktivitas membuat kerajinan.
Dengan paket promo seharga Rp25.000 per orang dan minimal 30 pengunjung, wisatawan dapat mengikuti proses pembuatan gerabah dari bahan mentah.
Pengunjung juga dapat mencoba melukis pada media gerabah sesuai kreativitas masing-masing. Menariknya, hasil karya tersebut dapat dibawa pulang sebagai buah tangan sekaligus kenang-kenangan dari Desa Gebangsari.
Konsep ini membuat pengalaman berwisata tidak berhenti pada melihat-lihat produk. Wisatawan juga diajak mengenal keterampilan tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Upaya Menjaga Gerabah sebagai Warisan Budaya
Menurut Sutikno, mempertahankan kerajinan gerabah bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah regenerasi pengrajin.
Sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, memilih bekerja di luar daerah sehingga tidak meneruskan keterampilan membuat gerabah yang diwariskan keluarganya.
BACA JUGA: Kompak dalam Aksi Kemanusiaan! Radar Tegal Sabet PMI Award di HUT ke-81 PMI Kota Tegal
BACA JUGA: Rumah Warga Kebumen Ludes Terbakar, Pemda Siapkan Hunian Baru untuk Keluarga Almarhum Mad Sunarto
Karena itu, pengelola bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gebangsari berupaya menjadikan aktivitas pembuatan gerabah sebagai daya tarik wisata.
Eduwisata tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan dinas pariwisata dan sejumlah pihak terkait. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kembali gerabah Gebangsari kepada generasi muda sekaligus membuka peluang agar tradisi pembuatan gerabah tetap bertahan.
“Alhamdulillah bisa tercatat di UNESCO dan Geopark Nasional ataupun Geopark Kebumen. Karena kerajinan ini merupakan sebuah kegiatan sehari-hari masyarakat yang sudah ada sejak dahulu,” ujar Sutikno.
Ada Jejak Sejarah Majapahit di Kebumen
Desa Gebangsari juga memiliki sisi sejarah yang menarik. Di wilayah ini dapat ditemukan peninggalan berupa sumur jobong, yang dikaitkan dengan jejak masa lalu dan menjadi bagian dari kekayaan sejarah lokal.
BACA JUGA: Dua Kebakaran Landa Kebumen dalam Semalam, 3 Hektare Lahan Terbakar
BACA JUGA: 4.546 Warga Kebumen Terima BLT DBHCHT, Masing-Masing Dapat Rp600 Ribu
Keberadaan peninggalan tersebut menambah daya tarik Desa Gebangsari sebagai kawasan yang memiliki perpaduan antara sejarah, budaya, kerajinan, dan wisata edukasi.
Dengan adanya eduwisata gerabah, pengunjung tidak hanya diajak mengenal sebuah produk kerajinan tanah liat, tetapi juga melihat bagaimana sebuah tradisi masyarakat berusaha dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Desa Gebangsari pun memiliki peluang untuk terus mengembangkan potensi wisata berbasis masyarakat, dengan gerabah sebagai salah satu identitas budayanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



