Omzet UMKM Kota Tegal Merosot, PKL Malah Menjamur Imbas Gelombang PHK

Omzet UMKM Kota Tegal Merosot, PKL Malah Menjamur Imbas Gelombang PHK

UMKM DI PUJASERA - Seorang karyawan menyiapkan adonan di salah satu lapak Pujasera Jalan Melati, Kamis (17/9). Sektor UMKM di Kota Tegal dilaporkan tengah mengalami kelesuan dari sisi omzet.--

TEGAL, diswayjateng.id - Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini diagung-agungkan sebagai tulang punggung ekonomi kini tengah menghadapi ujian berat. Pendapatan para pelaku usaha dilaporkan merosot tajam akibat kombinasi perlambatan ekonomi nasional, penurunan belanja negara, hingga melemahnya daya beli masyarakat kelas bawah.

Ketua Forum UMKM Kota Tegal, Elang Merayu Sukma, mengungkapkan bahwa kelesuan ini dirasakan secara merata oleh berbagai sektor usaha—mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan.

"Situasi UMKM hari ini memang seperti kondisi ekonomi negara, ya. Cukup lesu dari segi omzet dan lain-lain," ujar Elang saat ditemui di Kawasan Jalan Gatot Subroto.

Dari sekitar 20.000 total UMKM di Kota Tegal—dengan 2.000 di antaranya merupakan binaan dinas terkait dan 200 tergabung dalam Forum UMKM—sebuah fenomena unik sekaligus dilematis tengah terjadi.

Anomali Pasar: Pembeli Sepi, tapi Penjual Justru Bertambah

Di tengah lesunya omzet, jumlah pelaku UMKM, khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL), justru semakin menjamur di berbagai titik seperti kawasan Pujasera, Alun-Alun, Taman Pancasila, hingga koridor Jalan Slamet Riyadi, Soetomo, dan Veteran.

Kondisi ini menciptakan paradoks di lapangan: ketika jumlah pembeli menyusut, jumlah penjual justru melonjak. Akibatnya, persaingan antar-pedagang di jalanan menjadi semakin ketat.

Menurut Elang, lonjakan jumlah pedagang ini dipicu oleh gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Banyak pekerja sektor formal yang kehilangan pekerjaan lantas banting setir membuka lapak demi menyambung hidup.

Karena terkendala modal dan keterampilan khusus, sektor perdagangan makanan menjadi pilihan paling realistis untuk dimasuki. "Ini karena tidak ada pilihan lain," tegasnya menganalisis situasi tersebut.

Strategi Digital hingga Harapan pada Pemkot Tegal

Untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan, Forum UMKM mendorong para anggotanya agar tidak hanya mengandalkan pasar offline yang sudah jenuh. Berbagai pelatihan alternatif, seperti menjadi affiliate marketer di TikTok dan Shopee, digencarkan guna membidik ceruk pasar baru di luar Kota Tegal.

Kendati demikian, para pelaku usaha tetap membutuhkan uluran tangan pemerintah. Elang berharap Pemkot Tegal dapat melakukan penataan ruang usaha yang komprehensif bagi UMKM dan PKL. Penataan ini tidak sekadar soal relokasi, tetapi juga menyangkut kepastian berusaha, kenyamanan pembeli, dan pemerataan titik keramaian.

Selain itu, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang UMKM dan PKL dinilai sangat mendesak untuk diimplementasikan secara optimal. Regulasi ini diharapkan mampu menjadi payung hukum yang nyata untuk melindungi, menata, dan memberdayakan para pelaku usaha kecil secara berkelanjutan agar tulang punggung ekonomi ini tidak patah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait