Wamenkes Turun ke Kebumen, Penularan TBC dalam Keluarga Jadi Perhatian

Wamenkes Turun ke Kebumen, Penularan TBC dalam Keluarga Jadi Perhatian

Wamenkes Benyamin Paulus Octavianus bersama Wamendagri Akhmad Wiyagus dan Bupati Kebumen Lilis Nuryani saat meninjau kegiatan kesehatan dan penemuan aktif kasus TBC di Desa Tanuharjo, Kecamatan Alian, Kebumen, Selasa (15/9/2026).-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-

KEBUMEN, diswayjatneg.id– Upaya menekan penyebaran tuberkulosis (TBC) terus digenjot pemerintah. Meski tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan di Indonesia sudah tergolong tinggi, penularan di lingkungan keluarga masih menjadi tantangan besar yang harus diatasi.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dr. Benyamin Paulus Octavianus, saat melakukan kunjungan ke Desa Tanuharjo, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Selasa (15/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Akhmad Wiyagus,  meninjau langsung berbagai kegiatan kesehatan yang dipusatkan di Gedung Olah Raga (GOR) Desa Tanuharjo.

Kegiatan tersebut meliputi Cek Kesehatan Gratis (CKG), pengobatan umum, pemeriksaan dokter spesialis, peringatan World Contraception Day, Active Case Finding (ACF) TBC, hingga bakti sosial.

BACA JUGA: Kakak Beradik Warga Klaten Korban KM Virgo Transport 8 Tenggelam, Seorang Dinyatakan Selamat

BACA JUGA: Lapas Tegal dan Pemkot Tegal Perkuat Sinergi Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan

Wamenkes Benyamin mengatakan, persoalan TBC di Indonesia bukan hanya soal mengobati pasien yang sudah terdiagnosis. Upaya memutus rantai penularan, khususnya di dalam keluarga, juga menjadi pekerjaan besar.

Menurutnya, penanganan medis pasien TBC di Indonesia sebenarnya sudah berjalan cukup baik. Tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat bahkan telah berada di atas 90 persen.

Namun, kondisi tersebut belum cukup apabila penularan masih terjadi di lingkungan tempat tinggal pasien.

“Saya diundang oleh Bupati Lilis ke sini untuk menjelaskan langsung kepada masyarakat, karena kasus TBC di Indonesia masih menduduki peringkat tinggi di dunia. Secara data, pengobatan pasien di Indonesia sudah bagus dan tingkat kepatuhannya tinggi. Masalahnya muncul ketika pasien sakit, lalu kuman menulari anggota keluarga serumah,” ujar Benyamin.

BACA JUGA: Ada Hiu Paus dan Biodiversitas di Balik Bhimasena Run 2026, Apa Pesannya?

BACA JUGA: Gelar Baksos Bantuan Air Bersih Warnai Hari Lalu Lintas Bhayangkara Polres Tegal

Ia menjelaskan, bakteri penyebab TBC dapat menyebar melalui udara, terutama ketika terjadi kontak erat dalam ruangan atau lingkungan rumah. Karena itu, menurutnya, anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien perlu mendapatkan perhatian dan langkah pencegahan agar tidak ikut tertular.

Benyamin juga mendorong penguatan terapi pencegahan bagi kontak serumah pasien TBC sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan.

Sementara itu, Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengatakan penanggulangan TBC menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah sejalan dengan target nasional eliminasi TBC pada 2030.

Pemkab Kebumen, kata Lilis, telah memperkuat jejaring layanan kesehatan dengan melibatkan 35 puskesmas, 12 rumah sakit, klinik, serta tenaga medis swasta. Upaya penemuan kasus juga terus dilakukan secara aktif.

BACA JUGA: Kecewa Rekening Diblokir, Massa AMPB Lempar Telur Busuk ke Kantor Bank Mandiri Pati

BACA JUGA: Wajah di KTP Sudah Tak Relate? Gen Z Tak Bisa Sembarangan Ganti Foto

Hingga September 2026, pemeriksaan aktif telah dilakukan di 74 lokus dengan jangkauan sekitar 7.400 orang. Sedangkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah berjalan di seluruh puskesmas di Kebumen dan diikuti lebih dari 703 ribu warga.

Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara jumlah kasus yang ditemukan dengan estimasi kasus TBC di Kebumen.

“Sampai Agustus 2026, sebanyak 2.139 kasus TBC telah ditemukan dan dilaporkan. Angka ini masih berada di bawah estimasi kasus yang diperkirakan mencapai 3.690 kasus. Artinya, masih ada kesenjangan penemuan kasus yang harus kita selesaikan bersama melalui penemuan aktif, pengobatan tuntas, hingga terapi pencegahan kontak serumah,” ujar Lilis.

Bupati menilai penemuan kasus secara aktif menjadi penting agar penderita TBC dapat segera mendapatkan pengobatan sekaligus mencegah penularan kepada orang-orang di sekitarnya.

BACA JUGA: Api Lahap 2,5 Hektare Hutan Pinus di Sadang Kebumen, Padam Setelah 4 Jam

BACA JUGA: Riwayat Arif Sugiyanto, Mantan Bupati Kebumen yang Diamankan KPK dalam OTT ATR/BPN 

Pemkab Kebumen juga berharap dukungan pemerintah pusat dapat terus diperkuat, terutama untuk memperluas ketersediaan alat pemeriksaan TBC dan sarana pemeriksaan paru portabel.

Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. Di sisi lain, Lilis mengajak masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan dan segera menjalani pengobatan apabila terdiagnosis TBC.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menyukseskan gerakan TOSS TBC: Temukan, Obati, Sampai Sembuh.

Upaya tersebut diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus mata rantai penularan TBC di Kabupaten Kebumen menuju target eliminasi pada 2030.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait