Tanah Bergerak Terjang Purworejo Pati, Tujuh Ruko Rusak Berat

Tanah Bergerak Terjang Purworejo Pati, Tujuh Ruko Rusak Berat

Bencana tanah bergerak dan longsor menerjang kawasan lambiran Sungai Silugonggo di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. - dok.istimewa ---

PATI, diswayjateng.id — Bencana tanah bergerak dan longsor menerjang kawasan lambiran Sungai Silugonggo di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan PATI, Kabupaten PATI, Jawa Tengah, hingga merusak tujuh ruko warga dan retaknya jalan lingkar desa sepanjang 200 meter.

Kepala Desa Purworejo, Duwi Sumaryono, saat dikonfirmasi dari Pati, membenarkan peristiwa yang dipicu oleh menyusutnya debit air sungai akibat musim kemarau serta dampak proyek normalisasi kawasan sungai tersebut.

"Kejadian ini berdampak sepanjang 400 meter di area lambiran sungai dengan kedalaman penurunan tanah mencapai 50 hingga 200 sentimeter. Pagar beton pembatas sungai sepanjang 400 meter rusak, tujuh ruko rusak berat, dan jalan lingkar dukuh retak selebar 5 sentimeter," kata Duwi.

Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa yang mulai terjadi sejak Selasa (25/8) dini hari itu. Menurut Duwi, pergeseran tanah dipicu ketidakseimbangan beban tekanan antara area lambiran dan debit air sungai yang menyusut drastis. Fenomena ini, lanjutnya, baru muncul setelah adanya proyek normalisasi sungai untuk pembangunan Bendung Karet Sungai Juwana.

BACA JUGA:  Dua WNA Tiongkok Terindikasi Langgar Keimigrasian di Kendal, Imigrasi Semarang Periksa 505 Orang

BACA JUGA:  Sepeda Motor Digondol Maling karena Kunci Masih Nempel, Polisi Berhasil Bekuk Terduga Pelaku

Menindaklanjuti musibah tersebut, jajaran Polsek Pati dipimpin Kapolsek Iptu Windartono bersama Pemerintah Desa Purworejo dan Bhabinkamtibmas telah meninjau lokasi untuk melakukan pendataan awal dan penanganan preventif.

"Petugas mengarahkan pemasangan tanda peringatan di area rentan guna mencegah warga mendekati titik bahaya. Kami juga berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Pati dan dinas terkait untuk penanganan teknis," kata Iptu Windartono.

Berdasarkan pantauan di lokasi, dinding ruko yang berdiri di bahu sungai dipenuhi retakan lebar dan tanah di sekitarnya retak hingga kedalaman dua meter. Seluruh pemilik ruko memilih mengosongkan tempat usaha guna mengantisipasi risiko bangunan roboh.

Salah seorang warga setempat, Sukarno, menuturkan pergerakan tanah sudah terlihat sejak seminggu sebelum kejadian dan kian memburuk karena sungai kering selama sebulan terakhir. Kejadian serupa pernah melanda lokasi yang sama pada 2024 hingga merobohkan beberapa bangunan.

BACA JUGA:  ​Kasus Keracunan MBG di Rembang Meledak, Keberadaan Ketua Satgas Dipertanyakan

BACA JUGA:  KAI Daop 5 Edukasi Pengguna Jalan di Perlintasan Sebidang Banyumas-Cilacap

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi teknis segera melakukan kajian serta penanganan cepat guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait