Viral Belum Tentu Benar, Diskominfo Tegal Ingatkan Bahaya Hoaks yang Bikin Panik

Viral Belum Tentu Benar, Diskominfo Tegal Ingatkan Bahaya Hoaks yang Bikin Panik

KONSULTASI - Diskominfo Kabupaten Tegal, menggelar Forum Konsultasi Publik di Gedung Pertemuan KPRI Bhakti Husada, Slawi, Rabu (26/8).--

SLAWI, diswayjateng.id – Di tengah derasnya arus informasi media sosial, masyarakat Kabupaten Tegal diminta tidak mudah percaya pada informasi yang mendadak viral. Sebab, informasi yang ramai dibagikan belum tentu benar dan bisa jadi hoaks yang berpotensi memicu kepanikan publik.  

Pesan itu mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik Tahun 2026 yang digelar Diskominfo Kabupaten Tegal, Rabu (26/8/2026), di Gedung Pertemuan KPRI Bhakti Husada Slawi. Forum ini menjadi ruang bagi pemerintah dan masyarakat untuk membahas pelayanan publik sekaligus menyerap aspirasi.  

Kepala Diskominfo Kabupaten Tegal Nurhayati menegaskan, derasnya informasi di media sosial harus diimbangi kemampuan masyarakat memilah informasi.

“Sesuatu yang viral belum tentu kebenarannya, bisa jadi hoaks. Sekarang ini ada Undang-Undang Keamanan Informasi Pribadi,” ujarnya.  

BACA JUGA:Diskominfo Kabupaten Tegal Dorong Kolaborasi Digital ‎

BACA JUGA:Sepanjang 2025 Diskominfo Salatiga Tangani 34 Insiden Keamanan Siber

Diskominfo Tegal memiliki tiga core business utama, yakni teknologi informasi, persandian, serta data dan statistik. Dalam forum tersebut, masyarakat diberi kesempatan menyampaikan persoalan sekaligus masukan terhadap kebijakan dan pelayanan Diskominfo.  

Nurhayati menilai media sosial kini bukan sekadar sarana berbagi informasi, melainkan mesin pembentuk opini publik dengan kecepatan yang sulit dibendung. Konten visual bahkan lebih cepat ditangkap masyarakat dibandingkan narasi panjang, sehingga informasi keliru bisa cepat menyebar.  

Ia mencontohkan pola konsumsi informasi berdasarkan usia adalah Instagram dan TikTok digandrungi generasi muda yang menyukai informasi singkat. Sementara Facebook masih diminati kalangan lebih dewasa. Namun, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu beriringan dengan kebenaran.  

Isu seperti kenaikan harga BBM atau kelangkaan gas elpiji yang beredar tanpa verifikasi dapat membentuk opini publik dan memicu kepanikan.

“Setiap informasi yang muncul, opini terbentuk, kemudian viral, kepanikan masyarakat, itu kita harus bisa kelola. Media sosial sangat berpengaruh,” tegasnya.  

Nurhayati meminta masyarakat tidak terburu-buru menyebarkan informasi dari media sosial. Langkah sederhana seperti mengecek sumber dan kebenaran informasi penting untuk mencegah hoaks meluas.

“Kita harus cek dulu. Jangan sampai kita tidak tahu itu benar-benar,” tandasnya.  

Melalui forum ini, Diskominfo menegaskan komitmen memperbaiki kualitas pelayanan publik, bukan hanya cepat memberi informasi, tetapi juga memastikan informasi akurat, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait