Warga Meteseh Semarang Mulai Krisis Air Bersih sejak Juli 2026

Warga Meteseh Semarang Mulai Krisis Air Bersih sejak Juli 2026

BPBD Kota Semarang menyalurkan 5.000 liter air untuk membantu memenuhi kebutuhan 36 kepala keluarga.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, diswayjateng.id - Warga RT 7/RW 10, Kampung Rejosari, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mulai mengalami kekurangan air bersih sehingga bantuan air sebanyak 5.000 liter disalurkan BPBD Kota Semarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Droping air bersih dilakukan petugas BPBD Kota Semarang setelah sumber air yang selama ini digunakan warga mulai berkurang. Bantuan tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan 36 kepala keluarga di wilayah tersebut selama beberapa hari.

Kondisi kekurangan air disebut telah dirasakan warga sejak akhir Juli. Persediaan air dari Pamsimas yang menjadi salah satu sumber utama kebutuhan warga kini disebut hanya tersisa dalam jumlah terbatas.

Staf Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Sugiarto, mengatakan bantuan air sebanyak 5.000 liter telah dikirimkan untuk warga RT 7/RW 10 Kampung Rejosari. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdiri dari 36 kepala keluarga.

BACA JUGA:Tanggap Krisis Air Bersih, SMK Peristek Pangkah Guyur Bantuan ke Harjasari Tegal

BACA JUGA:Krisis Air Bersih Mengancam Glagahwaru Kudus, 24 Ribu Liter Air Digelontorkan ke Warga

“Untuk hari ini kami mengirimkan bantuan sebanyak lima ribu liter. Kami perkirakan jumlah tersebut cukup untuk warga RT setempat yang terdiri dari 36 kepala keluarga,” kata Sugiarto.

Menurut Sugiarto, bantuan air bersih juga dapat diajukan oleh warga Kota Semarang di wilayah lain yang mengalami kondisi serupa. Pengajuan dapat dilakukan melalui ketua RT setempat maupun dengan menghubungi Call Center BPBD Kota Semarang di nomor 112.

Air Pamsimas Mulai Terbatas

Kekurangan air bersih di Kampung Rejosari disebut telah dirasakan sejak akhir Juli. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan harian warga mulai mengalami kendala, terutama untuk keperluan mandi, mencuci, dan kebutuhan sanitasi lainnya.

Warga Kampung Rejosari, Saromah, mengatakan air dari Pamsimas saat ini hanya tersedia dalam jumlah sedikit sehingga tidak lagi mencukupi kebutuhan warga. Selama ini, kebutuhan air masyarakat setempat juga dibantu dari sumber air di pondok pesantren yang berada tidak jauh dari permukiman.

“Kekurangan air bersih ini sudah terjadi sekitar akhir Juli. Air Pamsimas sekarang hanya sedikit sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar Saromah.

Kondisi tersebut membuat bantuan air dari BPBD dinilai sangat membantu. Air sebanyak 5.000 liter yang diterima warga diperkirakan dapat digunakan selama sekitar tiga hari, terutama untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus atau MCK.

“Selama ini kebutuhan air hanya mengandalkan Pamsimas dan bantuan dari pondok pesantren yang tidak jauh dari kampung. Kami bersyukur akhirnya mendapat bantuan air dari BPBD,” katanya.

Warga Berharap Bantuan Berkelanjutan

Dukungan pemerintah daerah juga diapresiasi oleh Ketua RT setempat, Shohibul Adib. Bantuan air dinilai dapat mengurangi beban warga yang mulai kesulitan memperoleh sumber air bersih.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait