25 Ribu Penari Hidupkan Kembali Semangat Dugderan di Simpang Lima Semarang 

25 Ribu Penari Hidupkan Kembali Semangat Dugderan di Simpang Lima Semarang 

Sebanyak 25 ribu penari memadati Simpang Lima Semarang dalam Tari Dug Dug Der Semarangan-Dok pemkot semarang-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, diswayjateng.id– Tradisi Dugderan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Kota Semarang kembali dikenalkan dengan cara berbeda. Sebanyak 25 ribu penari memadati Lapangan Pancasila, kawasan Simpang Lima, Minggu (9/8) pagi, untuk membawakan Tari Dug Dug Der Semarangan secara serentak. 

Gelaran kolosal tersebut tidak hanya menghadirkan pemandangan lautan penari di pusat Kota Semarang, tetapi juga mencatatkan rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) sebagai pertunjukan Tari Dug Dug Der Semarangan dengan peserta terbanyak. 

Peserta berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai pelajar, mahasiswa, aparatur sipil negara (ASN), komunitas, sanggar seni hingga organisasi kemasyarakatan. Kelompok usia yang terlibat juga beragam, dari anak-anak hingga orang dewasa. 

BACA JUGA:Kirab Festival Kamir, Wujud Pelestarian Budaya dan Promosi Kuliner Khas Pemalang

BACA JUGA:Terbangkan Tari Dolalak di Langit Wonosobo, Embun Jadi Pilot Paralayang Putri Pertama Purworejo

Para penari perempuan tampil mengenakan kebaya encim Semarangan bernuansa merah putih. Sementara penari laki-laki mengenakan atasan putih dengan bawahan merah dan iket gagrak khas Semarang. 

Dugderan Dikenalkan Lewat Tari Kreasi 

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Tari Dug Dug Der Semarangan merupakan tari kreasi baru yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, salah satu budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat Kota Semarang. 

Menurutnya, pengembangan tradisi dalam bentuk seni pertunjukan menjadi salah satu cara agar budaya lokal dapat lebih mudah dikenali dan diterima generasi muda. 

“Budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama ratusan tahun ingin kita pertahankan. Salah satunya dengan mengumpulkan dan mengenalkan budaya itu kepada generasi muda,” kata Agustina. 

Keterlibatan puluhan ribu peserta, terutama pelajar dan mahasiswa, dinilai menjadi momentum untuk memperkenalkan budaya Semarang secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menjadi bagian dari pelestarian budaya. 

Simpang Lima Jadi Panggung Budaya 

Kawasan Simpang Lima dipilih sebagai lokasi pertunjukan karena merupakan salah satu ikon Kota Semarang. Ruang publik tersebut juga kerap menjadi pusat aktivitas masyarakat, termasuk olahraga pada akhir pekan. 

Agustina menilai, aktivitas menari dapat menggabungkan unsur seni dan kebugaran masyarakat.  “Kalau pagi, Simpang Lima biasanya menjadi tempat masyarakat berolahraga. Menari juga sama, bisa menjadi olahraga, tetapi dikemas dalam bentuk seni,” ujarnya. 

Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat, kawasan Simpang Lima juga tengah dipersiapkan sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. 

Rekor LEPRID Jadi Penanda Partisipasi Massal 

Ketua Umum Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) Paulus Pangka mengapresiasi penyelenggaraan Tari Dug Dug Der Semarangan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait