Dialog Kebudayaan di Pandansari Semarang Soroti Sejarah dan Identitas Masyarakat

Dialog Kebudayaan di Pandansari Semarang Soroti Sejarah dan Identitas Masyarakat

Dialog Budaya bertajuk Pajatan Budaya Swara Kesadaran di Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (8/8). -Umar Dani -

SEMARANG, diswayjateng.id – Tarian Dugderan dan Tari Semarangan membuka acara Dialog Kebudayaan yang digelar Swara Kesadaran bersama LPMK Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (8/8) malam.

Dialog bertajuk “Perubahan Sosial dan Ketidakberdayaan Rakyat Menghadapi Tekanan Negara: Membangun Kesadaran Budaya, Keadilan dan Peradaban” di hadiri ratusan warga dan memenuhi area depan panggung pertunjukan.

Dengan tata panggung dan tata suara sederhana, acara tersebut dikemas dalam suasana Pajatan Budaya, lengkap dengan makanan dan minuman yang tersedia di sekitar panggung dalam konsep angkringan.

Acara turut dihadiri Kepala Kelurahan Pandansari, jajaran Kecamatan Semarang Tengah, serta Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Semarang.

BACA JUGA:GOW Pemalang Ajak Perempuan Lestarikan Budaya Melalui Hari Kebaya Nasional

BACA JUGA:Kirab Festival Kamir, Wujud Pelestarian Budaya dan Promosi Kuliner Khas Pemalang

Pembawa acara, Gunung, mengatakan kegiatan tersebut murni digelar melalui swadaya masyarakat tanpa bantuan pendanaan dari pemerintah, kelurahan maupun Pemerintah Kota Semarang.

“Acara ini bisa terselenggara karena kesadaran kolektif warga untuk nguri-nguri budaya dengan dana swadaya tanpa melibatkan dana dari pemerintah,” kata Gunung.

Selain pertunjukan tari, warga juga dihibur penampilan band yang membawakan sejumlah lagu karya Iwan Fals.

Dialog menghadirkan tenaga ahli pemugaran cagar budaya sekaligus pemerhati sejarah, Bukhori Masruri, serta budayawan Jamal sebagai narasumber.

BACA JUGA:Kirab Festival Kamir, Wujud Pelestarian Budaya dan Promosi Kuliner Khas Pemalang

Penggagas Dialog Kebudayaan dalam Pajatan Budaya Swara Kesadaran, Andre atau yang akrab disapa Kang Betet, mengatakan kebudayaan harus dikembalikan kepada masyarakat sebagai ruang untuk membangun kesadaran.

Menurutnya, masyarakat yang kehilangan hubungan dengan sejarah dan budayanya akan lebih mudah kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri.

“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya adalah cara kita membaca realitas hari ini. Karena itu, ketika masyarakat merasa tidak berdaya, yang harus dibangun bukan hanya keberanian untuk bersuara, tetapi kesadaran untuk memahami sejarah, berpikir kritis, berdialog dan merawat kemanusiaan,” ujar Kang Andre.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: