SMC RS Telogorejo Berikan Edukasi, Epilepsi Bukan Hanya Persoalan Kejang

SMC RS Telogorejo Berikan Edukasi, Epilepsi Bukan Hanya Persoalan Kejang

MENGHADIRKAN : Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”, menghadirkan epilepsi survivor di Hotel Wahid Prime, Salatiga, Sabtu 8 Agustus 2026. Foto : Erna Yunus Basri--

SALATIGA, diswayjateng.id - Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa epilepsi bukan hanya persoalan kejang. Kondisi tersebut dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, pendidikan, kondisi psikologis, hingga kualitas hidup anak dan keluarganya. 

"Karena itu, evaluasi medis yang tepat diperlukan terutama ketika kejang masih berulang meskipun pasien telah menjalani pengobatan," kata Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo, Diana Loretta, ditengah Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”, di Hotel Wahid Prime, Salatiga, Sabtu 8 Agustus 2026.

Melalui Telogorejo Neuro Center itu, Diana menekankan, sosialisasi dan edukasi melalui seminar kesehatan khususnya penanganan epilepsi ini, merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk membawa edukasi kesehatan yang kredibel lebih dekat kepada masyarakat.

Menurut Diana, edukasi menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan. Kegiatan seminar ini menjadi bagian dari upaya SMC RS Telogorejo dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai epilepsi, khususnya kondisi epilepsi pada anak dan remaja. 

BACA JUGA: Kader Kesehatan Garda Terdepan di Masyarakat, Berperan Penting dalam Penanganan Stunting dan Lainnya

BACA JUGA: Bhakti Presisi Polresta Solo, Ojol dan Supeltas Nikmati Servis Motor hingga Cek Kesehatan Gratis



"Dimana, yang kejangnya tetap berulang meskipun telah mendapatkan terapi obat antikejang.
Karena itu, pengetahuan yang benar dapat membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat dan tepat dalam mencari pertolongan medis," terangnya. 

Sementara, Adhitia Budi, BMC Corporate Yayasan Kesehatan Telogorejo, menilai kegiatan edukasi di luar lingkungan rumah sakit menjadi salah satu cara Yayasan Kesehatan Telogorejo memperluas manfaat pelayanan kepada masyarakat.

Pelayanan kesehatan tidak berhenti ketika pasien datang ke rumah sakit. Kami juga memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat melalui edukasi dan peningkatan literasi kesehatan. 

BACA JUGA: Tak Sekadar Rampcheck, Satgas Ops Keselamatan Candi 2026 Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis di Rest Area

BACA JUGA: Forum Konsultasi Publik RSUD Kardinah Tegal, Perkuat Komitmen Tingkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan

"Harapannya, semakin banyak keluarga memahami kondisi yang dialami anaknya, mengetahui kapan harus mencari pertolongan, serta mendapatkan akses terhadap pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya,” kata Adhitia.

Ia menambahkan, kegiatan seperti ini sekaligus memperkuat komitmen Yayasan Kesehatan Telogorejo untuk terus mengembangkan layanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien dan keluarga.

Meluruskan Pemahaman tentang Epilepsi

Dari sisi komunikasi publik, Berliana Bunga, Humas SMC RS Telogorejo, mengatakan masih terdapat berbagai anggapan keliru mengenai epilepsi di tengah masyarakat. Hal tersebut dapat menyebabkan pasien dan keluarga terlambat mendapatkan informasi maupun pemeriksaan yang dibutuhkan.

BACA JUGA: Ke-dua Kalinya, Salatiga Raih UHC Award Bukti Komitmen Jaminan Kesehatan Warga

BACA JUGA: Diabetes dan Hipertensi Ancam Usia Produktif, BPJS Kesehatan Hadirkan Prolanis Muda



Diakui Berliana, SMC RS Telogorejo ingin membantu masyarakat mendapatkan informasi tentang epilepsi dari sumber yang tepat. Mengingat, masih ada keluarga yang menganggap kejang berulang sebagai kondisi yang harus diterima begitu saja, padahal pasien perlu mendapatkan evaluasi medis secara komprehensif. 

"Karena itu, komunikasi dan edukasi kesehatan menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak pada stigma maupun informasi yang keliru," imbuhnya. 

Menurut Berliana, melalui Telogorejo Neuro Center, SMC RS Telogorejo terus mendorong pendekatan multidisiplin dalam pelayanan gangguan neurologis. Pemilihan format seminar awam juga bertujuan agar informasi medis yang kompleks dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.

BACA JUGA: Pajak Daerah Semarang Tembus Rp2,64 Triliun, Pemkot Perkuat Layanan Kesehatan hingga Transportasi

BACA JUGA: Ancaman TBC Mengintai Warga Jepara, Ratusan Kader Kesehatan Dikerahkan Deteksi Dini

"Seminar di Salatiga diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai epilepsi, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pasien dengan kejang yang terus berulang membutuhkan evaluasi dan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing," pungkasnya. 

Dalam seminar kesehatan penanganan epilepsi, peserta dari kalangan orang tua dengan anak menderita penyakit epilepsi, guru  dan tenaga pendidik di Salatiga berkesempatan mengikuti konsultasi one-on-one gratis bagi peserta terpilih.

BACA JUGA: Cek Kesehatan Gratis di Semarang 2025 Tembus 42 Persen, Dinkes Kejar Target 1,5 Juta Warga pada 2026

BACA JUGA: Komitmen Kesehatan Gratis untuk Warga, Wali Kota Pekalongan Raih Disway Top Regional Leader Awards 2026

Salah satunya, seorang guru SMP Islam yang menanyakan apakah kejang sudah pasti epilepsi serta (apakah epilepsi) juga mempengaruhi motorik dan ingatan seseorang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait