Prof Dr dr Zainal Muttaqin : 30 Persen Epilepsi Sulit Diobati

Prof Dr dr Zainal Muttaqin : 30 Persen Epilepsi Sulit Diobati

SPESIALIS BEDAH SARAF : Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS(K), dokter spesialis bedah saraf konsultan NeurofuProf. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS(K), dokter spesialis bedah saraf konsultan Neurofungsional. Foto : Erna Yunus Basringsional--

SALATIGA, diswayjateng.id - Sekitar 30 persen epilepsi sulit diobati dan disebut epilepsi kebal obat (EKO). Poin ini ditegaskan Prof Dr dr Zainal Muttaqin PhD Sp BS(K), dokter spesialis bedah saraf konsultan Neurofungsional sekaligus, ahli bedah epilepsi yang berpraktik di SMC RS Telogorejo Semarang, Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”, di Hotel Wahid Prime, Salatiga, Sabtu 8 Agustus 2026.

Seminar diinisiasi SMC RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center itu, turut menghadirkan dr. Tun Paksi Sareharto, M.Si.Med, Sp.A(K), Spesialis Kesehatan Anak Subspesialis Neurologi dan Joko Pratomo, SPsi, Psikolog Klinis. 

Kegiatan juga menghadirkan Stephanie Claudia Kamadjaja, seorang epilepsy survivor, yang berbagi pengalaman dari perspektif pasien.

Disampaikan Prof Dr dr Zainal Muttaqin, kejang yang terus berulang menyebabkan kematian sel-sel otak yang terus bertambah pada anak-anak yang sedang tumbuh. Dimana, lebih merusak obat disebabkan retardasi mental. 

BACA JUGA: Kader Kesehatan Garda Terdepan di Masyarakat, Berperan Penting dalam Penanganan Stunting dan Lainnya

BACA JUGA: Strategi Baru Kota Tegal Bebas TBC: Targetkan 7.700 Warga Lewat Cek Kesehatan Gratis

"Perlu diketahui, 30 persen epilepsi sulit diobati dan disebut EKO. Dan, bedah epilepsi atau be dikembangkan untuk menolong EKO yang lokasi fokus epilepsi kejangnya di otak bisa diketahui atau bisa dipastikan. Sehingga, untuk memastikan letak fokus epilepsi perlu melihat bentuk kejang atau lewat video berulang foto mri yang lebih baik dan EEG 2 jam," paparnya. 

Sementara, Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo, Diana Loretta, mengatakan kegiatan di Salatiga merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk membawa edukasi kesehatan yang kredibel lebih dekat kepada masyarakat.



Pihaknya menginginkan agar masyarakat, khususnya para orang tua, mendapatkan informasi mengenai epilepsi langsung dari tenaga medis yang kompeten. 
"Ketika seorang anak masih mengalami kejang berulang meskipun sudah menjalani pengobatan, keluarga perlu mengetahui bahwa kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut," terang Diana Loretta. 

BACA JUGA: IPG Semarang Tembus 78,71 di 2025, Perempuan Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kesehatan dan Lingkungan

BACA JUGA: Forum Konsultasi Publik RSUD Kardinah Tegal, Perkuat Komitmen Tingkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Melalui kegiatan ini, RS Tlogorejo ingin membuka akses informasi sekaligus membantu masyarakat memahami langkah penanganan yang tepat. Melalui edukasi ini, menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan karena pengetahuan yang benar dapat membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat dan tepat dalam mencari pertolongan medis. 

Sebagai informasi, SMC RS Telogorejo merupakan institusi pelayanan kesehatan di bawah Yayasan Kesehatan Telogorejo berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan komprehensif dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Melalui pengembangan layanan unggulan, termasuk Telogorejo Neuro Center, SMC RS Telogorejo terus berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, edukasi, diagnosis, serta penanganan yang terintegrasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: