Manfaatkan Pekarangan, Bibit Kelapa Asal Kebumen Tembus Sumatra dan Kalimantan
Havril Setiawan menunjukkan ribuan bibit kelapa yang dibudidayakan di pekarangan rumahnya di Desa Mrinen, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Memanfaatkan lahan pekarangan seluas sekitar 100 ubin, Havril Setiawan, warga Dukuh Keceme RT 01 RW 03, Desa Mrinen, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, sukses mengembangkan usaha pembibitan kelapa yang kini telah memasuki tahun kedua.
Di lokasi pembibitan tersebut, Havril mengelola sekitar 10 ribu bibit kelapa. Sebanyak 5 ribu bibit masih berada dalam tahap pendederan, sementara 5 ribu bibit lainnya telah tumbuh dengan tinggi sekitar 50 sentimeter hingga satu meter dan siap dipasarkan.
Untuk menghasilkan bibit yang siap tanam, Havril membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam bulan sejak proses pendederan dimulai.
Beragam jenis kelapa dibudidayakan, mulai dari kelapa Jawa, kelapa Gading, kelapa Wulung, kelapa Puyuh, hingga kelapa Genjah Entok. Harga bibit yang ditawarkan pun bervariasi, mulai Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per batang, tergantung jenis, usia, dan ukuran bibit.
BACA JUGA: Menteri Pertanian Amran Tinjau Nurseri Kelapa Batang, Cek Bibit Unggul Gratis untuk Rakyat
BACA JUGA: Kejar Musim Tanam, Pembenih Kelapa Genjah Entog di Kebumen Tancap Gas Siapkan Ratusan Bibit
Tak hanya memenuhi permintaan pasar lokal di Kebumen dan sekitarnya, bibit kelapa milik Havril juga telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan.
"Yang paling banyak diminati itu kelapa Jawa. Kalau pengiriman ke Sumatra dan Kalimantan biasanya untuk kebutuhan program hilirisasi dan penghijauan," ujar Havril, Sabtu, (1/8/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pembibitan adalah memastikan bibit mampu tumbuh dengan baik. Bibit yang berasal dari buah kelapa yang masih terlalu muda memiliki tingkat keberhasilan tumbuh lebih rendah dibanding kelapa yang sudah tua.
Selain itu, kelembapan media tanam juga harus dijaga agar tidak terlalu basah karena berpotensi memicu serangan jamur.
BACA JUGA: Bupati Sudewo Obral Ribuan Bibit Kelapa di Cluwak Pati, Tujuannya Apa Sih?
BACA JUGA: Tragis, Penderes Nira di Puring Kebumen Meninggal Setelah Jatuh dari Pohon Kelapa
"Kalau kelembapan terlalu tinggi biasanya muncul jamur. Saat musim hujan kami mengurangi penyiraman supaya media tidak becek. Sebaliknya saat musim kemarau, yang penting kelembapannya tetap terjaga," jelasnya.
Pengalaman selama dua tahun membuat Havril semakin memahami cara mengantisipasi berbagai kendala tersebut. Dengan pengelolaan yang tepat, tingkat kegagalan bibit tumbuh dapat ditekan hingga sekitar 10 persen.
"Yang penting media tetap lembap tapi tidak becek. Kalau kelapanya sudah tua, peluang tumbuhnya tinggi. Kalau masih terlalu muda, peluang hidupnya bisa sekitar lima puluh banding lima puluh. Alhamdulillah sekarang yang gagal tumbuh hanya sekitar 10 persen," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





