Desa Grenggeng Kebumen Jadi Percontohan Nasional Program Rice Journey Berbasis Data
Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan nasional implementasi Program Rice Journey, sebuah inovasi pengelolaan beras berbasis data yang dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan Indon-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan nasional implementasi Program Rice Journey, sebuah inovasi pengelolaan beras berbasis data yang dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Kebumen, dan Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan di tingkat desa.
Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE., mengatakan transformasi tata kelola pangan nasional tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Menurutnya, pengambilan keputusan pemerintah harus didukung sistem data yang akurat, terintegrasi, dan dapat diakses secara cepat.
"Transformasi tata kelola pangan harus dimulai dari transformasi data. Ketika data produksi, distribusi, stok hingga konsumsi terintegrasi dalam satu sistem, pemerintah memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan secara presisi dan responsif," ujar Sugeng Santoso, Selasa (28/7/2026).
BACA JUGA: Dinkes Tegal Gelar Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji untuk Penjamah SPPG Adiwerna
Executive Decision Dashboard Jadi Jantung Rice Journey
Dalam implementasinya, Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama BRIN mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey, sebuah Decision Support System (DSS) yang mampu memantau perjalanan beras secara menyeluruh, mulai dari proses budidaya, panen, penggilingan, penyimpanan, distribusi, hingga konsumsi masyarakat.
Dashboard tersebut dirancang menampilkan informasi secara real time sekaligus dilengkapi fitur analisis risiko, simulasi berbagai skenario kebijakan, hingga early warning system yang dapat mendeteksi potensi gangguan produksi, distribusi, maupun fluktuasi harga beras sejak dini.
Menurut Sugeng, pemanfaatan teknologi tersebut akan membantu pemerintah meningkatkan akurasi perencanaan, mempercepat respons terhadap dinamika pasar, serta menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
Desa Grenggeng Dipilih karena Representatif
Desa Grenggeng dipilih sebagai lokasi implementasi karena memiliki karakteristik pertanian yang dinilai representatif. Wilayah ini memiliki hamparan sawah produktif, kelompok tani yang aktif, serta ekosistem pertanian yang dinilai cocok menjadi model pengembangan tata kelola beras berbasis data.
BACA JUGA: Pemkab Batang Genjot Perbaikan Irigasi Pertanian, 70 Persen Saluran Air Sawah Masuk Kondisi Baik
BACA JUGA: Ancaman Abrasi dan Rob di Kecamatan Tugu, DPRD Kota Semarang Desak Penyelamatan Lahan Pertanian
Dalam pelaksanaan di lapangan, IPDA berperan mendampingi masyarakat desa, memperkuat kapasitas kelembagaan, memfasilitasi pengumpulan data pertanian, sekaligus membangun kolaborasi antara petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, akademisi, hingga pemerintah pusat.
Keterlibatan pemuda desa diharapkan mampu memastikan proses digitalisasi sektor pangan berjalan secara partisipatif, akurat, dan berkelanjutan.
Stok Beras Nasional Surplus 5,23 Juta Ton
Pada kesempatan tersebut, Sugeng Santoso juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data pemerintah, stok beras nasional saat ini mencapai surplus sekitar 5,23 juta ton, menjadi salah satu capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, ia menegaskan peningkatan produksi harus diimbangi dengan tata kelola berbasis data agar distribusi, pasokan, dan stabilitas harga dapat terus terjaga.
BACA JUGA: Anyaman Pandan Grenggeng, Warisan Leluhur yang Terus Menghidupi Ribuan Warga Kebumen
BACA JUGA: Panen Padi 3 Kali Setahun, Desa Kalitanjung Siap Jadi Percontohan Kemandirian Pangan di Purworejo
"Rice Journey bukan sekadar proyek digitalisasi pertanian. Ini adalah transformasi tata kelola pangan nasional. Data harus menjadi dasar setiap kebijakan sehingga pemerintah mampu menjaga stabilitas produksi, memperkuat distribusi, melindungi petani, dan menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat," tegasnya.
Kebumen Siap Dukung Swasembada Pangan
Pemerintah Kabupaten Kebumen menyambut positif pelaksanaan Program Rice Journey. Sebagai salah satu sentra produksi beras di Jawa Tengah, Kebumen terus meningkatkan produktivitas pertanian melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), perluasan luas tanam hingga sekitar 170 ribu hektare, serta pengembangan sistem irigasi pompa guna meningkatkan intensitas tanam.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BRIN, dan IPDA, Program Rice Journey diharapkan menjadi model nasional tata kelola beras berbasis data yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Dengan menjadikan Desa Grenggeng sebagai laboratorium implementasi, pemerintah optimistis program ini akan menjadi tonggak baru dalam mewujudkan sistem pangan Indonesia yang lebih presisi, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus mempercepat pencapaian target swasembada pangan nasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:










