Puncak Tradisi Yaaqowiyyu Jatinom Klaten Sebar 6 Ton Apem

Puncak Tradisi Yaaqowiyyu Jatinom Klaten Sebar 6 Ton Apem

DIHADIRI : Tradisi Saparan dengan agenda menyebarkan apem tahun lalu dihadiri ribuan orang di Klaten. Foto : Erna Yunus Basri--

KLATEN, diswayjateng.id - Sebanyak 6 ton kue apem akan dibagikan dalam tradisi tahunan Yaaqowiyyu atau Saparan di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang dijadwalkan Jumat 31 Juli 2026 ini. 

6 ton apem berasal dari sedekah masyarakat yang dikumpulkan secara gotong royong dari berbagai daerah seperti, wilayah Boyolali, Sukoharjo, Semarang serta Magelang.  

Puncak perayaan menjadi warisan budaya khas Kabupaten Klaten yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu, diperkirakan dihadiri ribuan orang. 

Ketua Umum Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) Jatinom, KRAT Moh Ebta Tricahyo Dwijo Nagoro, menjelaskan, tradisi Yaaqawiyyu memiliki nilai religius dan sejarah. 

BACA JUGA: Lomba Bajak Sawah HUT ke-81 RI di Klaten Diikuti Lintas Provinsi di Pulau Jawa

BACA JUGA: Peserta Festival Memet Ikan 2026 Klaten Meninggal Saat Berebut Ikan

"Tradisi yang memiliki nilai sejarah ini menjadi daya tarik wisata budaya yang setiap tahun mampu mendatangkan puluhan ribu pengunjung ke Jatinom," ujarnya Ebta Tricahyo Dwijo Nagoro, Senin 27 Juli 2026. 

Tradisi bersedekah menjelang puncak Yaaqawiyyu ditandai menyebarkan 6 hingga 7 ton apem kembali ditegaskan Ebta Tricahyo, telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Kiai Ageng Gribig. 

"Tidak hanya warga secara perorangan, sejumlah kelompok masyarakat juga ikut berpartisipasi dengan mengirimkan apem dalam jumlah besar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap ajaran Kiai Ageng Gribig," terangnya. 

BACA JUGA: Polda Jateng Bongkar Peredaran Sabu Modus Sistem Tempel di Klaten dan Boyolali

BACA JUGA: Dibalik Penangkapan Tersangka Pengedar Upal di Klaten, Pelaku Ikuti Jejak Istri yang Telah Dipenjara

Perayaan selain tradisi penyebaran apem, rangkaian Grebeg Ageng Saparan Yaaqawiyyu 2026 diisi berbagai kegiatan keagamaan, budaya, dan kesenian yang berlangsung hampir satu bulan.

"Tradisi menjadi salah satu upaya melestarikan nilai budaya sekaligus ajaran luhur Kiai Ageng Gribig," terangnya. 

BACA JUGA: Polres Klaten Buru Pelaku Pembuangan Bayi, Selidiki CCTV Sekitar Lokasi

BACA JUGA: Diduga Gelapkan Uang Perusahaan Ratusan Juta, Pria asal Klaten Meringkuk di Tahanan Polres Demak

Nantinya, kegiatan diawali dengan Ambuka Sosongsong Winadi Eyang Kiai Ageng Gribig pada 16 Juli 2026.  Semaan Al-Qur'an pada 22 Juli, pengajian haul Kiai Ageng Gribig pada 23 Juli, serta Ngaji Bareng bertema budaya Islam era Sultan Agung pada 25 Juli. 

Dan sebagai puncak, tanggal 29 Juli 2026, panitia menggelar pentas Seni Laras Madya Manunggal Rasa, dilanjutkan kirab budaya, upacara serah terima gunungan apem, 30 Juli malam mododaren, shodaqah apem, dan kenduri.








Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: