Jelang Puncak Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Bupati Bersama Forkopimda Ziarah ke Makam KRT Setjonegoro

Jelang Puncak Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Bupati Bersama Forkopimda Ziarah ke Makam KRT Setjonegoro

TABUR BUNGA - Bupati Afif Nurhidayat bersama Forkopimda tabur bunga di makam Bupati Pertama Wonosobo, KRT Setjonegoro, jelang puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Wonosobo.-Ari Sunandar/Diswayjateng-

WONOSOBO, diswayjateng.id – Menjelang puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Bupati Afif Nurhidayat bersama Forkopimda, ziarah ke makam Bupati Wonosobo pertama, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Setjonegoro, Selasa (21/7/2026), di Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. 

Turut serta dalam kegiatan, para kepala perangkat daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hal ini, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur sekaligus refleksi atas perjalanan panjang sejarah Wonosobo. 

Penghormatan Kepada Para Pendiri Kabupaten Wonosobo

Selain itu, tradisi yang menjadi agenda wajib setiap peringatan hari jadi ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan hari ini berdiri di atas fondasi perjuangan, persatuan, dan pengabdian para pendahulu.

Prosesi diawali dengan pembacaan sejarah singkat KRT Setjonegoro, dilanjutkan doa dan tahlil bersama, kemudian ditutup dengan tabur bunga sebagai simbol penghormatan dan penghargaan atas jasa para pendiri Kabupaten Wonosobo.

BACA JUGA:Komisi A DPRD Wonosobo Tegaskan Aturan Bebas Utang Aset Desa untuk Calon Kades Incumbent

BACA JUGA:Kodim Wonosobo Targetkan Pembangunan Lima Jembatan Perintis Kelar Tepat Waktu

Dalam sambutannya, Bupati mengatakan bahwa ziarah merupakan bentuk penghormatan kepada para tokoh yang telah berjuang membangun fondasi pemerintahan dan memperjuangkan kemandirian Wonosobo. 

Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan ikhtiar untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerah.

"KRT Setjonegoro merupakan Bupati Wonosobo pertama. Ketika Perang Jawa meletus, Wonosobo menjadi salah satu basis penting perjuangan Pangeran Diponegoro. Kondisi alam berupa hutan belantara dan perbukitan menjadikan wilayah ini sebagai tempat strategis untuk menyusun kekuatan dan strategi perjuangan melawan kolonial Belanda," ujar Afif.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan KRT Setjonegoro di wilayah Ledok dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah, termasuk laporan pemerintah kolonial Belanda setelah berakhirnya Perang Diponegoro. 

BACA JUGA:Komisi B DPRD Wonosobo Dorong Sistem Pertanian Modern untuk Jaga Ketahanan Pangan dari Perubahan Iklim

BACA JUGA:Kini Mulus, Kehadiran Jalan Tani Genjot Produktivitas Pertanian di Kertek Wonosobo

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait