Langit Bingung

Langit Bingung

--

Oleh: Wawan Setiawan

Wakil Pemimpin Redaksi

 

MUSIM kemarau tiba. Sudah resmi. Katanya, 60,5 persen wilayah Indonesia sudah kering. Atau, sebut saja 423 Zona Musim. Rakyat sudah siap-siap. Jemuran bakal cepat kering. Baju basah cukup diangin-anginkan setengah jam. Beres. Tapi tunggu dulu.

 

BMKG mendadak memberi peringatan. Jangan senang dulu. Kemarau kali ini beda. Kemarau, tapi kok masih ada hujan? Malah ada yang lebat. Di Sangihe, hujan turun 75 mm sehari. Padang juga kebasahan. Singkawang dan Medan ikut-ikutan. Katanya, ada Madden-Julian Oscillation. Disingkat MJO. Ada juga Gelombang Kelvin. Lalu ada Gelombang Rossby.

 

Nama-namanya keren sekali. Seperti nama pemain bola Liga Eropa.

 

Padahal intinya sederhana: angin dan awan lagi bikin reuni di atas langit kita. MJO datang, Kelvin menyapa, Rossby ikut nimbrung. Suhu laut hangat. Jadilah belokan angin—alias shearline. Awan hujan pun bergumpal lagi.

 

Masyarakat bingung. Langit juga sepertinya bingung. Katanya kemarau, tapi kok basah? Katanya hujan, tapi cuaca gerah luar biasa.

 

Belum lagi soal El Nino. BMKG bilang El Nino bakal menguat sepanjang tahun ini. Artinya apa? Pemanasan global makin jadi. Awan-awan hujan makin enggan singgah. Bumi makin kerontang.

Tapi di saat yang sama, wilayah Riau, Kalimantan, sampai Papua malah disiram hujan karena gelombang atmosfer tadi.

 

Luar biasa. Dalam satu minggu, kita bisa merasakan dua alam sekaligus. Pagi panas menyengat sampai kulit rasanya mau terkelupas. Sorenya, deras. Petir menyambar. Lengkap dengan angin kencang di Banten dan Jawa Barat.

 

Ini kemarau rasa pancaroba. Atau pancaroba berbulu kemarau. BMKG lalu memberi imbauan. Standar. Tapi penting. Pertama, banyak-banyak minum air. Jangan sampai dehidrasi. Kedua, hemat air bersih. Karena reservoir tetap saja mengering walau ada hujan nyasar. Ketiga, kalau keluar rumah, pakai topi. Pakai payung. Kalau perlu, pakai tabir surya.

 

Lalu ada poin penting lagi: pantau terus aplikasi Info BMKG. Jangan percaya ramalan cuaca dari grup WhatsApp keluarga. Bahaya. Mbah Marijan saja sudah tidak ada, apalagi pawang cuaca dadakan di internet.

 

Namun, di balik semua kerumitan sains MJO dan Rossby itu, ada satu substansi mendasar yang harus kita sadari. Iklim dunia sedang tidak baik-baik saja. Pola cuaca tak lagi sepresisi zaman nenek moyang kita. Pranata Mangsa Jawa yang dulu jadi patokan petani, kini harus sering diuji ulang.

 

Atmosfer kita makin dinamis. Bahasa halusnya: makin tidak bisa ditebak.

 

Dulu, kemarau ya kemarau. Hujan ya hujan. Jelas. Tegas. Sekarang? Cuaca ikut-ikutan seperti sikap si dia: hangat sebentar, dingin mendadak, lalu bikin bingung seharian.

 

Kita memang tidak bisa mengendalikan Gelombang Kelvin atau El Nino. Itu urusan Yang Maha Kuasa dan dinamika alam planet bumi. Yang bisa kita kendalikan hanyalah kesiapan kita sendiri. Payung harus selalu ada di jok motor. Botol minum wajib mendekam di dalam tas.

 

Awan boleh bingung mau menurunkan hujan atau tidak. Tapi kita tidak boleh bingung untuk tetap bertahan hidup. (*)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: