Menerobos Maut

Menerobos Maut

--

Oleh: Wawan Setiawan

Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id

 

SENIN pagi, 20 Juli 2026. Jam menunjukkan pukul 06.50 WIB. Udara Kota Semarang merambat hangat.

 

Di perlintasan Kokrosono, Kecamatan Semarang Tengah, palang pintu sudah turun. Rapat. Sirene melengking. Nyaring sekali. Pun klakson lokomotif dari kejauhan sudah meraung-raung. Masinis membunyikan Semboyan 35. Berulang-ulang.

 

Warga sekitar lintasan tahu: bakal ada kereta mau lewat. KA Barang Petikemas. Dari barat ke timur. Dari Kampung Bandan Jakarta menuju Kalimas Surabaya. Beratnya beribu-ribu ton. Ironisnya, kecepatan kereta tidak bisa direm mendadak. Hukum fisika-nya begitu. Tidak mengenal kompromi.

 

Tapi ada yang merasa lebih cepat dari hukum fisika. Rujito, 45 tahun. Warga Semarang Utara pagi itu menunggangi legenda sepeda motor Indonesia: Honda Supra X. Motor sejuta umat yang dikenal irit, tangguh itu kadang membuat pengendaranya terlalu percaya diri.

 

Rujito tidak sendiri. Dia membonceng dua anaknya. Dua-duanya pelajar SD. Yang satu lahir tahun 2014, namanya Zafran. Yang satu lagi lahir tahun 2017, namanya Hafizh. Baru 9 tahun.

Saksi mata melihat jelas. Warga teriak. "Awas, ada kereta!" Rujito tetap maju. Gasss. Menerobos palang pintu yang sudah tertutup rapat.

 

Kenapa senekat itu? Apakah Rujito keburu waktu mengejar bel sekolah? Apakah dia merasa Honda Supra X miliknya punya tenaga turbo yang bisa melompati rel sebelum kereta itu melintas? Atau ini sekadar penyakit kronis jalanan kita: tidak sabaran.

 

Braaak! Kenekatan itu dibayar mahal. Terlalu mahal. Supra X itu dihantam KA Petikemas. Benturan tak seimbang. Hafizh R, bocah kecil itu menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Cedera kepala berat. Zafran luka-luka. Rujito sendiri dirawat di RSUP Dr. Kariadi. Cedera kepala.

 

Tragedi Kokrosono belum selesai dibicarakan, dua jam kemudian, kabar duka lain datang dari perlintasan sebidang Pekalongan-Batang. Pukul 08.18 WIB.

 

KA Kamandaka relasi Tegal-Semarang melintas. Palang pintu sudah turun. Warga dan pedagang pasar sudah berteriak histeris. Tapi seorang pejalan kaki tetap melenggang menyeberang rel. Satu nyawa melayang lagi.

 

Usut punya usut, korban diduga memiliki gangguan pendengaran. Dia tidak mendengar teriakan warga. Tidak mendengar raungan klakson lokomotif. Ini duka yang berbeda. Yang satu tragedi kemanusiaan karena keterbatasan fisik, yang di Kokrosono adalah tragedi kemanusiaan karena kelalaian moral.

 

Petugas pintu perlintasan sudah ada. Palang sudah ditutup. Sirene sudah menjerit. Masinis sudah membunyikan klakson berulang kali. Tapi semua teknologi keselamatan bernilai miliaran rupiah itu lumpuh seketika di hadapan satu hal: ketidaksabaran pengguna jalan.

 

Sering kali kita menyalahkan perlintasan sebidang. "Harusnya dibuat flyover!" atau "Harusnya dibuat underpass!"

 

Saya setuju. Sangat setuju! Tapi kalau mental menerobosnya masih dipelihara, jangankan palang pintu, tembok besar Tiongkok pun mungkin akan dicari celahnya demi bisa mendahului nasib.

 

Ini pelajaran kelam bagi kita. Kereta api tidak pernah bisa ngerem mendadak. Tapi manusia, mestinya punya otak untuk mengerem egonya sendiri. (*)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait