Tragedi Lele
--
Oleh: Wawan Setiawan
Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id
ADA yang tega. Sungguh tega! Lima ribu ekor. Bayangkan. Lima ribu nyawa melayang sekaligus di Desa Ngablak, Boyolali. Untungnya bukan nyawa manusia. Tapi nyawa bibit lele milik Koperasi Desa Merah Putih.
Usia lele-lele itu baru 45 hari. Masih remaja. Lagi lucu-lucunya. Lagi rakus-rakusnya makan pelet.
Rencananya, mereka dipelihara untuk mendongkrak ekonomi desa. Tapi apa daya. Hari Minggu kemarin, semua rencana itu mengambang. Bersama tubuh-tubuh mungil yang sudah kaku.
Petang itu biasa saja. Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB. Waktunya makan malam bagi para lele.
Pengelola kolam datang membawa ember pakan. Kolam lain langsung heboh. Airnya bergolak. Lele-lele berebut makanan. Standard. Begitulah kelakuan lele yang sehat walafiat. Tapi ada yang aneh di kolam nomor C5. Sepi. Sunyi. Senyap.
Diberi pakan, tidak ada respons. Jangankan melompat, menengok pun tidak. Setelah disenter: Innalillahi. Ribuan bibit lele sudah putih semua. Mengambang berjamaah.
Pengelola panik. Kolam langsung dikuras. Air dibuang. Di dasar kolam yang mengering itulah misteri terungkap. Ada benda putih. Bulat. Menyengat. Itu kapur barus. Alias kamper.
Siapa yang menaruh? Belum tahu. Tapi efeknya dahsyat. Kerugian material ditaksir Rp5 juta. Bagi koperasi desa, angka itu besar sekali.
Respons polisi luar biasa. Jempolan. Kapolsek Wonosegoro IPTU Hidayat Seno Harjanto langsung turun tangan. Tidak tanggung-tanggung. Semua instansi dikerahkan.
Ada Unit Resmob Polres Boyolali. Ada Puskesmas Wonosamodro. Ada Puskeswan Karanggede. Bahkan Labkesda Kabupaten Boyolali pun ikut sibuk.
Hebat. Urusan lele mati bisa menggerakkan birokrasi lintas sektoral. Kasi Humas Polres Boyolali, AKP Winarsih, sampai turun memberikan pernyataan resmi. Polisi mengamankan barang bukti. Sampel air kolam dibawa. Beberapa bangkai lele dibungkus. Dan tentu saja: satu butir kamper mistis itu disita.
Kini semua menunggu hasil lab. Penyelidikan sedang berjalan.
Kita patut merenung. Mengapa ada orang sejahat itu? Terhadap lele pula. Kalau mencuri dan lelenya dibawa pulang lalu digoreng, itu kriminal biasa. Motifnya perut lapar. Masih bisa dimaklumi secara sosial. Tapi ini? Diracun. Menggunakan kamper.
Ini bukan pencurian. Ini sabotase. Ini teror tingkat tinggi berskala kolam. Pelakunya jelas tidak butuh ikan. Pelakunya hanya ingin melihat koperasi desa itu gagal. Ingin melihat pengelolanya menangis. Dendam macam apa yang melibatkan lima ribu ekor lele remaja? Apakah ada persaingan bisnis? Atau sekadar iri tanda tak mampu?
Zaman sekarang, jangankan manusia, ternyata lele pun punya musuh dalam selimut. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

