Sensus Rontok

Sensus Rontok

--

Oleh: Wawan Setiawan

Pemimpin Redaksi Diswayjatewng.id

 

KERJA berat. Gaji mungkin tak seberapa. Lalu, menyerah. Itulah yang terjadi di Semarang. Kota lumpia. Ibu kota Jawa Tengah.

 

Sejumlah petugas Sensus Ekonomi 2026 angkat tangan. Mundur teratur. Bahasa kerennya: resign. Mereka kaget. Ternyata di lapangan tidak seindah di dalam ruangan. Kenyataan lebih kejam dari bayangan saat mendaftar.

 

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, membenarkan itu. Petugas BPS masuk ke masyarakat, lalu bertumbangan. Bayangannya mungkin hanya catat-mencatat santai sambil minum teh. Ternyata? Harus ketok pintu ke pintu. Menghadapi berbagai macam raut muka manusia.

 

Tapi BPS tidak boleh mati angin. Target harus dikejar. Makanya Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono, langsung bergerak. Sistem back-up jalan. Tanggal 18 Juli besok petugas pengganti sudah harus siap. Rekrutmen kilat dilakukan. Sensus harus jalan terus. On the track.

 

Mengapa petugas sensus sampai rontok?

 

Tantangannya memang luar biasa. Menghadapi masyarakat perkotaan itu beda dengan orang desa. Orang desa biasanya ramah. Disuguhi kopi. Diajak ngobrol apa saja mengalir.

Di kota? Jangan harap. Karakteristiknya heterogen. Ego tinggi. Waktu sempit.

 

Ada dua benteng besar yang harus ditembus petugas sensus di Semarang.

 

Pertama, benteng fisik. Perumahan elite. Kawasan industri. Masuk ke sana susahnya setengah mati. Penjagaannya ketat. Satpamnya galak. Petugas sensus sering tertahan di gerbang. Dianggap mengganggu kenyamanan. Untuk urusan ini, Wali Kota sampai turun tangan. Meminta para camat ikut membantu. Menghubungkan koordinator sensus dengan otoritas wilayah. Kalau satpam perumahan elite masih berani menolak, keterlaluan.

 

Benteng kedua lebih parah, psikologis. Masyarakat kota itu curigaan. Begitu ada petugas datang menanyakan aset, omzet, dan bisnis, pikiran mereka langsung melompat jauh. "Ini pasti orang pajak!" Begitu batin mereka.

 

Maka, pintu rumah langsung ditutup. Atau, datanya dimanipulasi. Dikecil-kecilkan. Takut tagihan pajak mendadak melonjak. Ketakutan akan keamanan data pribadi juga tinggi. Maklum, zaman sekarang kasus kebocoran data sudah seperti sarapan pagi.

 

Menjadi petugas sensus di kota besar ternyata butuh mental baja. Bukan sekadar modal pulpen dan berkas berkilo-kilo. Mereka harus punya kemampuan negosiasi setingkat diplomat. Harus bisa merayu pemilik rumah mewah agar mau membuka pagar. Harus bisa meyakinkan pengusaha pelit bahwa mereka bukan intelijen dirjen pajak.

 

Kalau mentalnya seperti kerupuk disiram kuah soto, ya langsung melempem. Memilih mundur adalah jalan paling logis daripada stres sendirian di pinggir Jalan Pemuda atau Simpang Lima.

Kita harus angkat topi pada yang bertahan. Dan kita tunggu aksi para petugas pengganti tanggal 18 Juli nanti. Semoga mereka sudah dibekali suplemen anti-stres dan ilmu kebal dari bentakan satpam.

 

Saran saya untuk BPS, saat rekrutmen petugas pengganti besok, selain tes administrasi dan wawancara, tambahkan satu tes lagi. Tes ketahanan mental dicuekin gebetan. Mengapa? Karena kalau menghadapi penolakan dari gebetan saja sudah tegar, ditolak oleh pemilik rumah elite di Semarang pasti rasanya biasa saja.

 

Selamat bekerja untuk petugas yang baru. Lapangan menantangmu! (*)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: