Pil Sapi
--
Oleh: Wawan Setiawan
Pimpinan Redaksi Diswayjateng.id
HEBAT betul anak zaman sekarang. Inisialnya HBP. Umurnya 18 tahun. Masih ranum. Masih bau kencur. Tapi bisnisnya sudah skala grosir. Bukan grosir kain di Pasar Klewer, tapi grosir sediaan farmasi.
Keren, ya? Keren bahasanya: "sediaan farmasi". Keren juga istilah hukumnya. Tapi kalau kita preteli isinya, hanya jualan pil sapi.
Anda jangan salah paham. Ini bukan pil untuk mengobati sapi yang sedang masuk angin atau mogok kawin. Ini pil yang kalau diminum manusia, kelakuannya bisa berubah jadi... ah, Anda sudah tahu kelanjutannya. Nama resminya keren: Trihexyphenidyl.
Lidah saya sampai terpeleset mengejanya. Singkatnya, itu obat keras. Obat penenang. Obat yang harusnya ditebus pakai resep dokter yang sekolahnya bertahun-tahun, bukan dibeli di pinggir jalan dari anak kemarin sore.
Jujur, kisah dari Purworejo ini menarik perhatian saya untuk dibedah. Semua bermula dari keresahan warga. Polisi mendengar. Lalu bergerak. Caranya klasik tapi ampuh: undercover. Menyamar. Saya tidak tahu polisinya menyamar jadi apa. Jadi pembeli fiktif, jadi anak punk, atau jangan-jangan menyamar jadi tiang listrik di pinggir jalan.
Yang jelas, umpan termakan. Ditangkaplah seorang pria bernama Galang. Di kantongnya ditemukan dua plastik klip. Isinya 10 butir pil putih berlogo 'Y'. Harganya? Ini yang bikin saya geleng-geleng kepala. Cuma Rp50 ribu!
Zaman sekarang, uang Rp50 ribu dapat apa? Mau beli kopi kekinian di mall cuma dapat satu gelas, itu pun kalau tidak pakai extra shot espresso. Tapi di dunia hitam Purworejo, Rp50 ribu sudah bisa membeli tiket menuju "halusinasi tingkat tinggi". Murah sekali harga merusak masa depan itu.
Dari Galang, polisi bergerak lagi. Muncul nama Bayu. Rumahnya digerebek di Dusun Kayulawang. Pun di sana ditemukan pil sapi dan enam butir Trihexyphenidyl yang disembunyikan di dalam bungkus rokok merek Mozza. Saya baru dengar ada rokok merek Mozza. Mungkin itu rokok rasa keju mozzarella. Makanya diberi nama Mozza. Entahlah...
Nah, dari Bayu inilah jalurnya bermuara ke HBP. Pemuda 18 tahun tadi. Dia diduga sang bandar besar di wilayah itu. Di atas HBP, masih ada lagi yang diburu: namanya Rogy. Silsilah bisnis mereka sudah kayak struktur organisasi perusahaan startup di Jakarta, bedanya yang ini startup jalur neraka.
Saya merenung membaca rilis dari Wakapolres Purworejo Kompol Nana Edi Sugito dan Kasat Narkoba AKP Amirudin Zulkarnain ini.
Ada lompatan zaman yang mengerikan. Dulu, anak umur 18 tahun itu pusingnya memikirkan jerawat, atau bingung bagaimana caranya nembak gebetan di sekolah. Sekarang? Anak 18 tahun sudah pusing memikirkan bagaimana caranya memutar modal, memotong jalur distribusi, dan menghindari kejaran Tim Opsnal Satresnarkoba. Kreativitas yang sungguh salah alamat.
Polisi, melalui Kasi Humas AKP Ida Widaastuti kembali mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua. Sebenarnya itu lagu lama yang harus terus dinyanyikan. Sebab, benteng terakhir memang ada di rumah. Seringkali orang tua merasa anaknya aman-aman saja di kamar karena si anak terlihat diam dan penurut. Padahal di dalam kamar, si anak sedang sibuk membalas pesan WhatsApp, mengoordinasikan pengiriman pil sapi antar-kecamatan.
Zaman sudah berubah. Musuh anak-anak kita bukan lagi tawuran antar-sekolah pakai penggaris besi. Musuhnya ada di dalam bungkus rokok Mozza. Musuhnya berlogo huruf 'Y'.
Kita apresiasi Polres Purworejo yang berhasil memutus rantai ini. Tapi selama permintaannya masih ada, pasokan baru akan selalu muncul. Hari ini HBP ditangkap, besok bisa muncul HBP-HBP lain dengan huruf inisial berbeda. Tugas kita belum selesai.
Kalau saya ditakdirkan bertemu HBP di ruang tahanan, sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan. Kenapa dia sampai nekat jualan pil sapi. Mbok ya mending jualan susu sapi saja. Sama-sama bikin ketagihan, tapi yang ini tidak bakal bikin nginap di hotel prodeo! Leres, bro? (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




