Kubangan Lele
--
Oleh: Wawan Setiawan
Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id
HEBAT! Hebat betul warga Desa Godo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati ini. Kreatif. Sekaligus punya selera humor tinggi. Bahkan level humornya sudah mencapai tingkat dewa.
Bayangkan. Jalan kabupaten yang rusak parah, penuh kubangan air sedalam betis, tidak mereka tangisi. Tidak juga diblokir pakai bakar ban yang bikin polusi. Mereka punya cara lebih produktif. Lebih ekonomis. Lebih mengenyangkan.
Kubangan jalan itu disulap jadi kolam lele. Puluhan ekor lele dilepas di sana. Lalu anak-anak kecil datang membawa joran. Mancing gratis di tengah jalan utama penghubung antarkecamatan.
Ini bukan sekadar protes. Ini adalah diversifikasi fungsi infrastruktur yang luar biasa. Kalau pemerintah daerah tidak bisa membangun jalan, biar warga yang membangun ketahanan pangan. Lewat jalur budidaya lele genangan.
Menurut warga sekitar, kurang lebih sudah 25 tahun jalan itu telantar. Itu bukan waktu sebentar. Kalau jalan itu adalah seorang anak manusia, hari ini dia sudah lulus kuliah, sudah bekerja, bahkan mungkin sudah punya anak satu.
Selama 25 tahun itu pula, entah sudah berapa kali ganti bupati di Pati. Berapa kali ganti anggota DPRD yang daerah pemilihannya lewat situ. Tiap lima tahun, para calon pemimpin pasti datang. Tebar senyum. Tebar janji. Mungkin juga tebar kalender. Tapi jalan sepanjang 300 meter itu tetap konsisten: tetap hancur, tetap berlubang, dan tetap setia menampung air hujan.
Yang konsisten lewat justru bukan aspal baru, melainkan truk-truk tronton bermuatan material tambang galian C. Menakjubkan. Truknya makin besar, muatannya makin berat, jalannya makin ambles.
Maka, saat ada warga Godo menanam pohon pisang di tengah jalan sebelum beralih ke ternak lele, saya jadi paham alur berpikir warga setempat. Ini adalah konsep integrated farming atau pertanian terpadu masa kini. Ada kebun pisangnya, ada kolam lelenya.
Kalau hujan, jalan itu jadi wahana wisata air ala waterboom. Licin dan dalam. Kalau kemarau, berubah jadi gurun pasir. Debunya pekat, siap menguji kekuatan paru-paru warga setiap hari.
Sebenarnya, sempat ada angin segar. Katanya, ada anggaran pembangunan jalan di tahun 2026 ini. Tapi ya itu, baru sebatas kabar. Realisasinya? Masih sama seperti rasa lele yang dipancing anak-anak itu: mentah.
Warga sekarang tidak butuh lagi janji politik penambalan jalan. Mereka tahu betul, tambal sulam itu umurnya cuma seumur jagung. Kena gilas tronton galian C seminggu juga buyar lagi. Warga butuh pembangunan total. Dicor beton. Dilebarkan. Supaya ekonomi jalan, dan nyawa pengendara motor tidak dipertaruhkan setiap hari di dalam lubang-lubang maut itu.
Aksi lele ini adalah sindiran yang sangat telak. Menggelitik tapi menohok jantung birokrasi. Siapa tahu, setelah melihat aksi ini, pak bupati tertarik untuk menggelar agenda kunjungan kerja ke Desa Godo.
Bukan untuk meresmikan jalan, tapi untuk ikut lomba mancing dan makan lele bersama warga. Aha! (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





