Menakar Peradaban: Antara Silau Kemegahan ”Wah” dan Bobot Hasil ”Woh”
MENAKAR PERADABAN - Suasana hangat acara Moci Bareng bertajuk ”Mbangun Kota Tegal Apike Luruh ’Wah’ Apa ’Woh’” yang dihadiri para tokoh literasi, budayawan, dan masyarakat di Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi, Jalan Cereme, Kota Tegal, yang dipandu --
TEGAL, diswayjateng.id – Apa yang paling pas untuk menggambarkan arah pembangunan Kota Tegal ke depan? Apakah mengejar sesuatu yang serba megah, viral, dan bikin decak kagum (wah), ataukah fokus pada hasil nyata yang berakar kuat pada kemaslahatan masyarakat (woh)?
Diskusi hangat penuh gayung bersambut ini mengemuka dalam acara Moci Bareng bertajuk ”Mbangun Kota Tegal Apike Luruh ’Wah’ Apa ’Woh’”. Digelar di Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi, Jalan Cereme, Mangkukusuman, forum tersebut menghadirkan panelis lintas pakar.
Mulai dari mantan Wakil Wali Kota Tegal Dr. Maufur, Duta Baca Indonesia Gol A Gong, budayawan Atmo Tan Sidik, hingga dalang kondang Ki Anton Surono.
Dalam kesempatan tersebut, Gol A Gong mencoba membedah dikotomi wah dan woh dengan mengomparasikan khazanah literasi dari tanah kelahirannya, Banten. Ia mengutip salah satu bait Babad Banten, baluwarti bata kawan-kawis.
”Para budayawan menafsirkan bata (batu bata) sebagai unsur lokal, sedangkan karang di laut sebagai unsur luar. Membangun peradaban itu memang harus mengombinasikan keduanya,” ujar penulis produktif tersebut.
Fenomena perpaduan ini, lanjut Gol A Gong, sebenarnya sudah terlihat nyata malam itu. Ia mencontohkan bagaimana Ki Surono sebagai dalang mampu menyelipkan kemampuan bahasa Inggris yang terkesan wah, namun tetap kukuh berpijak pada kelokalan yang utuh.
Menyikapi kekhawatiran zaman, pria berambut nyentrik ini mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW agar mendidik anak cucu sesuai dengan zamannya. Para filsuf pun sepakat, kunci keberhasilan bukan sekadar kecerdasan, melainkan kemampuan beradaptasi.
Secara runut, Gol A Gong membeberkan evolusi peradaban manusia. Mulai dari manusia gua yang melukis di dinding, penemuan kertas oleh Cai Lun di Tiongkok yang sempat ditolak kaum konservatif, lahirnya mesin cetak Gutenberg, era mesin ketik, hingga komputer dan smartphone yang merajai era kecerdasan buatan (AI) saat ini.
”Mereka yang mendambakan masa lalu dan menolak perubahan akan tersingkir. Urusan wah dan woh di Tegal pun begitu, kita harus mulai beradaptasi. Keduanya, seperti yang dikatakan Pak Wakil Wali Kota, harus jalan berdampingan,” tegasnya.
Mengikis Ego Sektoral Literasi
Di sisi lain, Gol A Gong juga menyoroti tantangan birokrasi dalam pengembangan literasi nasional yang kerap terjebak ego sektoral. Di Indonesia, urusan ini terbelah antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (melalui Badan Bahasa) serta Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Berangkat dari pengalamannya memimpin Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) periode 2010–2015, Gol A Gong kini digandeng Perpusnas untuk menjembatani jurang pemisah tersebut.
”Saya sekarang mencoba menyatukan gerak antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan di daerah-daerah agar tidak ada lagi ego sektoral,” jelasnya.
Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi sendiri, menurutnya, merupakan aset penting yang diakui sebagai bagian dari upaya merawat literasi dan bahasa.
Melalui ruang-ruang dialog seperti moci bareng inilah, keselarasan antara kemajuan zaman (wah) dan buah kemanfaatan bagi masyarakat (woh) bisa terus dirumuskan demi kemajuan Kota Bahari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





