HUT disway jateng

Balapan Subuh

Balapan Subuh

--

Oleh: Wawan Setiawan

Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id

 

SAYA heran. Beneran heran. Mengapa jalan nasional bisa lumpuh total saat menjelang subuh, dan itu bukan karena truk mogok atau pasar tumpah. Ini terjadi di Pati. Tepatnya di Jalur Lingkar Selatan (JLS), sebelah timur Perempatan Ngantru. Isunya klasik. Balapan liar!

 

Dulu, yang namanya balap liar ya sekadar hobi anak muda kurang kerjaan. Modifikasi motor seadanya. Knalpot brong. Lalu adu cepat. Taruhannya paling banter sebungkus rokok atau segelas kopi. Sekarang? Tidak lagi. Ini sudah bergeser menjadi industri gelap yang rapi.

 

Bayangkan, ajang balapan liar subuh kemarin itu bukan main-main. Polisi Pati mengendus ada taruhan yang nilainya tidak tanggung-tanggung: puluhan juta rupiah. Gila. Sangat gila!  

 

Pemainnya pun bukan lagi remaja lokal yang cari perhatian. Mereka mendatangkan joki drag profesional dari luar daerah. Manajemennya pun modern. Dipromosikan secara masif lewat media sosial.

 

Penontonnya? Berjubel memenuhi badan jalan sampai arus logistik nasional macet total dari dua arah. Hebat betul medsos kita. Bisa mengonsolidasikan massa dalam sekejap untuk urusan yang melanggar hukum.

 

Beruntung, aparat Polresta Pati dan Polsek Pati Kota tidak sedang tidur. Begitu mendapat laporan dari masyarakat yang resah, dan pasti terganggu tidurnya, mereka langsung bergerak cepat.

Hasilnya? Seperti yang Anda duga. Massa bubar jalan. Sebelas sepeda motor diangkut.

 

Meski polisi menduga kuat ada unsur perjudian di sana, masalahnya saat digerebek uang tunai puluhan juta itu tidak ada di lokasi. Zaman sekarang, memangnya siapa yang mau bawa uang tunai bergepok-gepok di sirkuit jalanan? Sangat mungkin uangnya sudah ditransfer, pakai e-wallet, atau dipegang oleh bandar yang posisinya jauh dari aspal.

 

Inilah yang harus polisi buru. Aktor intelektualnya. Siapa penyelenggaranya? Siapa penyandang dananya?

 

Balap liar model begini tidak akan mati hanya dengan menangkap joki atau menyita motor pretelan. Selama "kue" taruhannya masih manis, mereka akan selalu mencari tempat lain. Hari ini dibubarkan, besok pindah lagi. Terus begitu. Kucing-kucingan.

 

Kita mendukung penuh ketegasan polisi. Tapi kita juga ingin melihat, bisakah jaringan judi di balik knalpot bising ini dibongkar sampai ke akar-akarnya?

 

Sebab kalau hanya joki dan penonton yang ditangkap, minggu depan balapan serupa pasti muncul lagi. Hanya tempatnya saja yang bergeser beberapa kilometer. 

 

Mirip seperti jerawat. Dipencet di jidat, besoknya tumbuh di dagu. Terus begitu, selalu begitu, memang begitu... (*)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait