Ketika Anak Memilih Buku, Orang Tua Memilih Menjaga Harapan
--
Oleh: A. Prasetyo
Penikmat Secangkir Kopi yang Masih Percaya bahwa Akal Sehat Layak Diperjuangkan
MENJELANG tahun ajaran baru, toko buku selalu ramai dan dipenuhi wajah-wajah gembira. Anak-anak berlarian dari satu rak ke rak lainnya. Mereka memilih buku tulis bergambar tokoh kesukaan, mencoba tas yang menurut mereka paling keren, atau sibuk menentukan warna tempat pensil yang akan menemani selama setahun ke depan.
Bagi anak-anak, itu adalah hari yang menyenangkan. Namun, beberapa langkah di belakang mereka, ada cerita yang berbeda. Cerita tentang orang tua.
Mereka memang berada di toko yang sama, tetapi apa yang mereka lihat tidak pernah sama. Anak-anak melihat warna; orang tua melihat angka.
Di sebuah sudut, seorang ibu berkali-kali berjalan menuju mesin pengecek harga. Ia mengambil sebuah barang, mengeceknya, kembali ke rak, lalu mengulangi proses itu lagi. Bukan karena ia ragu membaca angka, melainkan karena ia sedang memastikan apakah isi dompetnya masih sanggup menjaga harapan anaknya.
Di sisi lain, seorang ayah meminta anaknya mengembalikan beberapa barang ke rak. Bukan karena barang tersebut tidak penting. Tidak ada bentakan, tidak ada wajah kesal. Hanya senyum yang dipaksakan agar sang anak tidak mengetahui bahwa ada batas yang tak bisa dilampaui.
Saat itulah saya menyadari bahwa mesin pengecek harga ternyata tidak selalu digunakan untuk mengetahui harga barang. Kadang-kadang, ia dipakai untuk mengukur kecemasan.
Pemandangan seperti itu mungkin terlihat biasa. Kita melewatinya begitu saja, seolah tidak ada yang layak dipikirkan. Padahal, justru di sanalah pendidikan sedang memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi.
Selama ini, kita terlalu sering membicarakan pendidikan dari dalam ruang kelas. Kita memperdebatkan kurikulum, metode belajar, capaian nilai ujian, bahkan teknologi pembelajaran. Padahal bagi banyak keluarga, pendidikan sesungguhnya dimulai jauh sebelum bel sekolah pertama berbunyi.
Ia dimulai di depan rak-rak toko buku. Di sanalah orang tua membeli harapan.
Mungkin ada yang menunda membeli baju baru. Mungkin ada yang mengurangi kebutuhan rumah tangga bulan ini. Atau mungkin, ada yang diam-diam mengambil tabungan yang semula disiapkan untuk keperluan lain.
Anak-anak tidak pernah melihat semua itu. Yang mereka tahu hanyalah buku, tas, dan alat tulis akhirnya berhasil dibawa pulang.
Kasih sayang memang bekerja dengan cara yang sunyi. Ia tidak banyak berbicara; ia lebih sering berkorban.
Ironisnya, pengorbanan itu kadang hanya dihargai beberapa minggu. Buku mulai dibiarkan terlipat. Alat tulis hilang tercecer entah ke mana. Tugas sekolah dikerjakan sekadarnya. Semangat belajar perlahan dikalahkan oleh hal-hal lain yang lebih menarik perhatian.
Mungkin semua itu terlihat sepele. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang berkali-kali mengecek harga ketika melihat buku yang diperjuangkannya bahkan jarang dibuka?
Pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan seorang ayah yang mengurangi kebutuhannya sendiri ketika mengetahui anaknya lebih sibuk menatap layar gawai daripada membaca halaman buku?
Barangkali, pertanyaan yang perlu lebih sering kita ajukan kepada anak-anak bukan lagi, "Sudah belajar hari ini?" Melainkan:
"Tahukah kamu, setiap buku yang kini ada di mejamu mungkin dibayar dengan kecemasan yang tidak pernah diceritakan oleh ayah dan ibumu?"
Sebab, harga sebuah buku memang tercetak pada label, tetapi harga sebuah pengorbanan tidak pernah tercetak di mana pun. Ia tidak muncul di mesin pengecek harga, tidak pula tertulis pada struk pembayaran. Ia hanya hidup di dalam hati orang tua yang memilih pulang dengan dompet menipis—atau bahkan hampir kosong—asalkan anaknya tidak pulang dengan wajah kecewa.
Mungkin itulah sebabnya, belajar yang sungguh-sungguh bukan hanya soal mengejar nilai atau meraih cita-cita. Belajar adalah bentuk penghormatan paling sederhana kepada dua orang yang diam-diam sedang mempertaruhkan banyak hal agar anaknya tetap memiliki masa depan.
Sebab, sebelum buku-buku itu dibuka di ruang kelas, ada ayah dan ibu yang lebih dahulu membuka dompet mereka dengan segala kecemasan yang disembunyikan. Dan tidak ada hadiah yang lebih layak mereka terima, selain melihat anak-anaknya tidak menyia-nyiakan setiap halaman yang telah diperjuangkan. Salam. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




