Drone Bikin Petani Batang Tak Lagi Mandi Pestisida, Semprot Sawah Cuma 30 Menit

Drone Bikin Petani Batang Tak Lagi Mandi Pestisida, Semprot Sawah Cuma 30 Menit

Petani Batang menggunakan drone untuk menyemprot pestidisa ke sawahnya di Kalipucang Wetan, Kecamatan/Kabupaten Batang, Sabtu 4 Juli 2026.-ist -

BATANG, diswayjateng.id - Drone pertanian mulai menarik perhatian petani di Kabupaten BATANG. Teknologi Drone pertanian ini menawarkan penyemprotan pestisida lebih cepat, efisien, dan lebih aman bagi kesehatan.

Penggunaan drone pertanian mulai dicoba petani di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang. Drone pertanian tersebut dinilai mampu mengurangi beban kerja sekaligus meningkatkan efisiensi penyemprotan.

"Yang utama masalah kesehatan. Residu obat bisa berdampak pada paru-paru, kanker kulit, hingga pembuluh darah," kata petani Kalipucang Wetan, Mudadi, Sabtu 4 Juli 2026.

Mudadi mengaku alasan utama memakai drone bukan sekadar mengejar kecepatan kerja. Ia juga ingin mengurangi paparan pestisida yang selama bertahun-tahun mengenai tubuh petani.

BACA JUGA: Dapat Rp108 miliar, PAD Batang Belum Gaspol! PBB dan Opsen PKB Jadi PR

BACA JUGA: DPRD Batang Soroti Perpanjangan Izin Tower Pekuncen milik Mitratel

Menurutnya, penyemprotan manual membutuhkan tenaga besar sepanjang hari. Drone mampu menyelesaikan pekerjaan serupa dalam waktu kurang dari dua jam.

Lahan garapan Mudadi mencapai sekitar 1,3 hektare. Seluruh lahan biasanya membutuhkan satu hari penuh bila disemprot manual.

Kini pekerjaan itu jauh lebih singkat menggunakan jasa drone. Waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan pertanian lainnya.

Mudadi menyewa layanan drone dari penyedia jasa mekanisasi pertanian. Biaya penyemprotan mencapai Rp600 ribu per hektare termasuk pestisida.

BACA JUGA: Siapkan SDM untuk Investor, KEK Industropolis Batang Genjot Program PRIMA 2026

BACA JUGA: Selter JPT Pratama Pemkab Batang: Perebutan Kursi Kepala Diskominfo dan Asisten III Dimulai

Ia mengakui biaya tersebut sedikit lebih mahal dibanding penyemprotan manual. Selisihnya berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu setiap hektare.

Meski demikian, tambahan biaya dianggap sebanding dengan manfaatnya. Efisiensi waktu dan perlindungan kesehatan menjadi pertimbangan utama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait